Abah Uca

Minggu, 18 April 2010

Heboh VCD Porno : Dikdik Dahlan L.

Beruntunglah bagi sebagian para penjual dan pengusaha rental VCD, terutama penyedia VCD porno. Betapa tidak, karena menjelang bulan Ramadlan 1422 H. selepas bulan Rajab, Bandung dan bangsa Indonesia umumnya dihebohkan dengan munculnya kasus rekaman cabul sepasang anak mahasiswa yang di tengah masyarakat justru lebih meluas dengan sebutan “VCD ITENAS”.
Kenapa beruntung ? Konon, sebuah copy bisa laku dijual sampai angka Rp 150.000,- dan untuk sekedar menyewa bisa mencapai tiga atau bahkan lima kali lipat harga sewaan umumnya. Itupun, diawal kemunculan kasus ini bisa antri dua sampai tiga hari.
Di tengah peredaran VCD yang tentu tidak legal itu, masyarakat kemudian malah menaburkan penyedap dengan bumbu-bumbu isu yang cukup di-muqadimah-i dengan “katanya”, “cenah”, “meureun”, “sigana”, dan ungkapan sejenisnya. Sebagai contoh, “Cenah mah, duanana oge anak anggota dewan yang terhormat”.
Kenapa harganya bisa melambung ? “Resikonya juga ‘kan, besar”. Jawaban seperti itu sangat bisa dimaklumi. Oleh orang yang butuh, penasaran, atau apa saja namanya semahal apapun bisa ditebaknya.
Kenapa beredar ? Kenapa cabul ?, dan bahkan kenapa orang penasaran untuk menontonnya ? Pertanyaan - pertanyaan seperti inilah yang justru sulit mendapatkan jawaban. Terhadap pertanyaan – pertanyaan itu, sangat mungkin jawabannya akan panjang – panjang, akan sangat berbelit – belit, mungkin juga akan menyentuh orang lain, baik kepentingannya, kedudukannya, atau bahkan harga dirinya.Tidak hanya itu, dalam sebuah lingkaran, orang pun
akan saling mempersalahkan orang di luar dirinya.
Apa memang ini sudah zamannya ? Zaman atau waktu, nampaknya tidak perlu dipersalahkan. Karena memang waktu bergulir seiring sunnatullah. Waktu akan menjadi saksi sebuah kerugian sebagai akibat kemalasan, dan kelalaian. Waktu pun akan menjadi saksi sebuah kemenangan, kebahagiaan, dan kesuksesan sebagai akibat dari kesungguhan, ketertiban, serta kebenaran yang diperbuat. Kalau hubungan intim dua sejoli di luar nikah dianggap sebagai suatu yang benar dan tidak salah, tentu ada yang salah, lalai atau tidak benar dalam segala sesuatu menyangkut system dan suasana yang erat kaitannya dengan pendidikan.Demikian juga jika peredaran VCD porno dianggap sebagai sebuah kelajiman, maka tentu ada yang salah dan tidak benar menyangkut hal itu. Kita nampaknya perlu melakukan introspeksi. (Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Gema Mujahidin – Bandung)

Tiga Shahabat : Dikdik Dahlan L.

Empat belas abad yang lalu, ada seorang pria berbadan tegap berdiri di hadapan sebuah jama’ah di suatu masjid. Wajah pria itu menunjukkan kemarahannya, lalu dengan lantang ia berpidato :
“Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah saw. telah wafat. Tetapi, demi Allah sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti Musa bin ‘Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka. Sungguh Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong.”
Jama’ah yang mendengarnya sempat percaya dengan apa yang dikatakannya.
Seorang pria datang, menghampirinya dan menepuk pundak pria yang baru saja berpidato itu lalu berkata : “Saudara-saudara ! Barang siapa menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barang siapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tidak pernah mati.” Kemudian ia membacakan firman Allah : “Muhammad adalah seorang rasul. Sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul yang sudah lampau. Apabila dia mati atau terbunuh, apakah kamu akan berbalik ke belakang ? Barang siapa berbalik ke belakang. Ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
Pria yang pertama-kali berpidato, tersungkur di tanah setelah mendengar ayat tersebut. Pria yang pertama itu adalah Umar bin Khathab, pria yang kedua itu adalah Abu Bakar ash-Shidiq, sedangkan yang meninggal waktu itu adalah Rasulullah saw.

Hari Akhirat : Dikdik Dahlan L.

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Seseungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Q.S. Luqman/31: 34)

Tidak semua orang meyakini akan adanya kehidupan akhirat, sekalipun semua orang pasti meyakini bahwa dirinya akan mengalami kematian baik orang mukmin, musyrik, maupun kafir.
Orang yang tidak memiliki keyakinan akan adanya kehidupan akhirat, kematian adalah kematian. Orang mati tidak akan mengalami kejadian apa-apa lagi, karena menurut mereka memang sudah “mati”. Bagi mereka kehidupan dunia adalah segala-galanya, baik dan buruk hanya ditentukan oleh pertimbangan akal pikiran semata tanpa mengenal dzalim atau adil apalagi halal dan haram, bahkan tidak jarang, hawa nafsu lebih menguasainya sehingga mungkin apapun dapat dilakukan asal dapat memuaskan hati.
Orang-orang musyrik kebanyakan masih memiliki nilai-nilai kerohanian, namun mereka tersesat untuk menemukan nilai-nilai kerohaniannya maupun untuk mengenali tuhannya sendiri (Allah). Di antara mereka tidak sedikit yang meyakini akan adanya kehidupan akhirat tetapi keliru ketika mengungkapkannya. Tidak aneh kalau upayanya untuk menjelmakan nilai-nilai kerohanian itu jauh dari hakikat keruhanian yang diyakininya. Ketika seseorang mati misalnya, ruh si mati itu diyakini bakal reinkarnasi baik ke dalam tubuh manusia lainnya maupun tubuh binatang dan makuhluk lainnya, sehingga untuk menghormati dan atau mengantarkan kematian seseorang mereka membuat upacara-upacara tertentu yang seakan-akan seperti syariat tapi justru memperkuat kesesatannya.
Meyakini adanya hari akhir adalah wajib hukumnya, dan ancaman neraka bagi orang yang mengingkarinya. Percaya dan meyakini adanya hari akhir merupakan salah satu arkanul iman, sejajar dengan keharusan untuk percaya dan meyakini akan keberadaan Allah, para Malaikat, para Rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya. Dalam berbagai firman-Nya, Allah telah menuturkan keterangan tentang proses manusia menuju alam akhirat itu sebagai berikut :
Pertama : mati, ialah proses ruh meninggalkan jasadnya. Kejadian ini (mati) tidak mungkin dapat dihindari oleh seluruh makhluk hidup. “Di mana saja kamu berada niscaya kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh …. (Q.S. an-Nisaa’/4: 78).
Kematian, juga adalah batas akhir bernilainya setiap perbuatan manusia. Rasulullah bersabda : “Apabila Ibnu Adam (manusia) mati maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga hal yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang senantiasa mendoakannya (orang tua)”.
Kematian, adalah salah satu dari lima hal yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Seseungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Q.S. Luqman/31: 34)
Kedua : as-Sa’ah, yaitu rusaknya seluruh alam yang diikuti dengan dihidupkan dan dibangkitkanya kembali manusia dari kubur untuk diadili segala perbuatannya selama hidup di dunia. Menurut Zuhair Tsawisy, alam kubur adalah alam barzakh. Jika seseorang mati, baik dikubur di dalam tanah, tenggelam di lautan atau dimakan binatang, posisinya berada dalam alam barzakh.
As-Sa’ah juga termasuk panca gaib (lima hal yang menjadi rahasiah Allah semata) sebagaimana tertuang dalam surat Luqman ayat 34 di atas. As-Sa’ah dikenal juga dengan Yaum al-Qiyamah atau Yaum al-Ba’ts yang artinya hari kebangkitan manusia dari kuburnya. Allah menegaskan tentang hal ini dalam surat Saba’/34 ayat 3 :
Artinya: “Dan orang-orang yang kafir berkata : “hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah : “Pasti datang, demi Tuhanku Yang mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi dari pada-Nya seberat zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).
Ketiga : Pembalasan. Seluruh manusia, tanpa kecuali setelah melalui proses “pengadilan” akan mendapatkan pembalasan yang setimpal dengan apa yang diperbuatnya selama hidup di dunia. Manusia mukmin – muttaqien dengan segala keyakinan dan amal shalehnya akan mendapatkan penghargaan dan balasan mulia berupa kenikmatan syurgawi yang kekal abadi. Sebaliknya, orang kafir dan selalu berbuat munkar adalah neraka tempat peristirahatan kekalnya.
“Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu (jenis) azab yang pedih”. (Q.S. Saba/34: 4)
Ketersediaan balasan berupa kenikmatan syurga dan siksa neraka mendatangkan konsekuensi agar manusia selalu meyakini bahwa Allah senantiasa merekam seluruh perbuatannya sampai ajal menjelang. Kepercayaan kepada Allah, kepada para rasul-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, tidak mungkin akan mendapati kesempurnaan tanpa kepercayaan dan keyakinan adanya hari akhir, karena Allah sendiri yang menjanjikannya dan disampaikan-Nya oleh para rasul yang termaktub dalam kitab (al-Qur’an).
Kepercayaan kepada hari akhir juga merupakan salah satu syarat mutlak untuk mengelola, dan menciptakan kemakmuran kehidupan dunia karena dengan keyakinan adanya pembalasan, manusia terbimbing untuk selalu berbuat ishlah, dan adil serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang hanya didasari oleh nafsu syahwati yang selalu mendorong berbuat inkar dan makar. Orang yang yakin kepada hari akhir dan pembalasannya akan menumbuhkan etos kerja yang tinggi dan berkualitas, karena setiap pekerjaannya selalu diarahkan untuk menjadi amal shaleh yang bermanfaat untuk kemaslahatan manusia, tidak mendatangkan bencana, dan didasari keikhlasan untuk mendapatkan ridla Allah semata.
Keikhlasan untuk berbakti, dan segala pekerjaan/perbuatan bernilai amal shaleh diyakini orang mu’min-muttaqien sebagai tabungan, sekaligus kunci kebahagiaan yang lebih mulia, lebih berharga dan lebih kekal.
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari pada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (Q.S. al-An’aam/6: 94).

Akhir Sebuah Nadzar : Dikdik Dahlan L.

Dua puluh tiga Desember sembilan puluh tiga, batas akhir nadzarku. Sejak seminggu menjelang tibanya tanggal itu, aku dihadapkan kepada dua kebimbangan. Berusaha mencari sampai habis kepenasaranan, atau melupakannya sama sekali ? Mengambil pilihan pertama, berarti harus meninggalkan pekerjaan dengan konsekwensi pemutusan hubungan kerja, karena belum tentu sampai kapan harus mencari. Untuk melupakannya, aku belum siap. Aku masih penasaran.
Betapa tidak, sebelum tidak bertemu selama lima tahun, tiga tahun aku begitu dekat dengannya. Aku terlanjur menganggapnya sebagai adik, dan ia pun memperlakukan aku seperti kakaknya sendiri. Tidak ada ikatan apapun layaknya sepasang remaja. Barangkali karena kelajiman seperti itulah, perpisahan itu terjadi begitu saja. Aku pindah kota karena studi, dan sebulan kemudian keluarganya pindah ke lain kota sebelum aku sempat memberikan alamat. Aku kehilangan jejak.
Sejak saat itu, aku bernadzar : selama lima tahun aku tidak akan berpaling ke lain hati. Sebuah keputusan yang sering mendapat cibiran, cemoohan dan ejekan dari sesama pria. Aku tidak peduli, karena bagiku dia adalah permata. Sebilah permata yang sempat terkubur dalam genangan lumpur. Tertutup jerami apek.
Pertama kali aku mendengar sapaanya, seperti mendengar petir di tengah terik matahari.
“Ngapain lihatin gue, anjing ?”. Ketika itu ia masih berseragam SLTP, putih biru. Kedua lengan bajunya dilipat, hampir setengah dari pahanya ia pertontonkan untuk siapapun yang hendak menikmati pemandangan gratis itu. Rambutnya berjambul, gincu bibirnya sangat menyolok dan matanya yang liar memperpanjang tarikan napasku.
Dalam waktu dua minggu aku berhasil mendekatinya. Dia sudah mampu memanggil nama asliku, bukan “anjing”. Sepertinya ia mendapat teman baru.
Ternyata dugaanku salah. Dia menganggap aku adalah mangsa baru. Sudah dua puluh dua orang lelaki yang menjadi mangsanya. Aku adalah yang ke dua puluh tiga. Ia mengobral cinta dan asmara, untuk kemudian ia perdaya, ia sakiti, ia buang seperti sampah menjijikan dan ia ludahi dengan kepuasannya. Ia menargetkan seratus orang laki-laki untuk dijadikan mangsanya. Lapar, buas, atau hoby ? Aku tak habis pikir. Inikah yang disebut buaya betina ? Bukankah istilah “buaya betina” itu ditujukan untuk para pria play boy, yang memiliki hoby mencari dan mempermainkan para wanita ? Bukan wanita seperti buaya yang senang memangsa pria.
“Laki laki semuanya sama, buaya”. Aku tidak berkomentar atas pernyataannya itu. Buang buang waktu, ia bukan tipe wanita yang mudah menyerah untuk didebat. Sepertinya, ia tidak hanya membutuhkan sekedar petuah lisan.
Buktinya, semakin hari, aku semakin banyak mendapat peluang untuk menempatkan kehadiranku dalam hidupnya. Ia ternyata tidak menganggapku sebagai buaya, dan ia pun tidak mencampakkanku seperti sampah, seperti kepada laki-laki lain. Bahkan, suatu saat aku diajak bertandang ke rumahnya.
Tidak anak, tidak juga ayahnya. Belum sempat aku masuk ke ruang tamunya. Belum sempat aku memperkenalkan diri. Aku diusir ayahnya seperti mengusir kucing borok. Tapi beberapa minggu kemudian aku dengan lapang dada menerima permintaan maaf yang tulus dari seorang pria yang sebaya dengan ayahku itu. Aku mulai dianggap menjadi bagian dari keluarganya.
Tiga tahun aku begitu dekat dengannya, dengan ayah dan ibunya, dengan kakak dan adiknya. Aku sudah tidak risih lagi untuk jalan bareng, bahkan sebaliknya, aku bangga. Waktu pengumuman kelulusan SLTP, ia mendapat tepuk tangan riuh, ia mendapat ciuman wali kelas, ia mendapat dekapan hangat seluruh keluarga. Ia menjadi bintang sekolah. Ia peraih nilai paling tinggi di kotanya.Tidak sia-sia aku memberikan privat semiggu dua kali.
Waktu aku pamit untuk melanjutkan studi. Aku melihat setitik air mata mengalir di relung pipinya. Kejadian yang tak pernah aku saksikan sejak mengenalnya. Secepat kilat ia berusaha memupus air mata itu. Ia senyum. Menundukan wajah. Aku hampir tak percaya dengan mataku sendiri, karena tiga tahun sebelumnya wajahnya itu selalu mendongak penuh kesombongan.
Ketika terakhir kali aku memandangnya ia mengenakan baju biru muda berlengan panjang. Hadiah dariku karena ia berjanji untuk tidak memakai lagi baju-baju mini. Ia juga pernah berkata kalau selama ini ternyata mengenakan celana panjang jauh lebih nyaman.
“Kalau pake kerudung itu wajib, Mas ?” Aku belum sempat menjawabnya. “Tapi, untuk saat ini aku belum siap”. susulnya.

….

Tujuh jam menjelang berakhirnya nadzarku, langkahku terhenti di depan sebuah rumah mungil. Agak susah mencari nomor rumah itu karena terhalang pepohonan yang tumbuh sangat terawat memenuhi seluruh halaman. Aku merasakan kesejukan ketika daun daunnya bergoyang, menghembuskan angin. Beberapa helai daun kecil bahkan sempat singgah di atas sepatuku yang sudah lusuh karena selama tiga hari dipakai berjalan, keluar masuk komplek perumahan, naik turun angkutan mencari alamat yang tidak pernah aku kenal. Selama tiga malam, aku memang seperti orang terlantar. Tidur di stasiun kereta, di terminal bis, di mushola.
Dua kali tangan kananku memijit tombol bel. Seorang gadis kecil membuka daun pintu. Aku melempar senyum kepadanya. Ia berdiri mematung. Menatapku tajam. Menubruk dan merangkul pinggangku. Ia menangis. Di tengah tangisnya Ia berkata sesuatu, tapi tak jelas apa yang dikatakannya. Ketika aku membalas rangkulannya, benakku teringat pada sosok gadis mungil usia lima tahun yang dulu sering duduk di pangkuanku sambil mengunyah permen pemberianku.
Kulit perutku terasa dingin oleh air matanya. Berulang – ulang aku mengusap rambutnya. Ia tidak berhenti menangis dalam dekapanku yang mematung di mulut pintu. Ia baru melepaskan pelukannya setelah mendengar suara ibunya yang memanggil dan menyusulnya. Ia berlari dan memeluk ibunya.
Wanita tengah baya itu sangat aku kenal. Dari sorot mata dan gerak bibirnya ia terlihat sedang menahan keharuan. Aku menganggukkan kepala untuknya. Aku mendekatinya dan berusaha untuk sujud di kakinya. Belum sempat aku menyentuhnya, ia terlihat menggelengkan kepala dan meraih pundakku. Ia meminta aku berdiri. Sambil mengangkat tubuhku, memenuhi permintaanya, tidak lepas aku memandang sorot matanya. Ia memalingkan tatapannya, seperti yang menyembunyikan sesuatu. Ia menangis Keharuannnya memuncak.. Beberapa tetes air mata jatuh di rambutku, di bahu bajuku. Tangis mereka sempat memunculkan dugaan yang tidak- semestinya dalam hatiku.
“Selama satu tahun lebih sejak kami pindah dia terus sakit – sakitan. Dalam tidurnya sering menyebut namamu”
“Jadi ?”
“Masuklah ke dalam, anakku ! Sebentar lagi juga datang” Aku lega mendengarnya. Dia masih tetap menganggapku sebagai anaknya. “Setiap ba’da ashar sampai menjelang maghrib ia selalu menyempatkan diri ke yayasan. Dua tahun yang lalu ia mendirikan yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Perkembangannya juga cukup bagus. Ia memberi nama yayasan itu dengan nama belakangmu. Dia begitu berhutang budi kepadamu. Tidak hanya itu, selama tiga tahun ia bernadzar untuk tidak menerima pria lain”.
Belum sempat pantatku menyentuh kursi yang hendak kududuki, sebuah mobil kijang merah berhenti tepat di halaman rumah.
Seorang wanita berkerudung, turun dari mobil. Melalui kaca jendela yang hampir tertutup gordyn aku berusaha mengenali. Raut wajahnya, matanya, bentuk hidungnya, bibirnya, pipinya, semuanya aku kenal. Ia menghilang terhalang gordyn biru.
“Ia datang” ucap wanita tengah baya itu. Aku menganggukkan kepala. Aku berusaha senyum menyembunyikan debur jantung.
Pintu terbuka. Ucapan salam megiringi derit engsel pintu. Langkahnya terhenti di mulut pintu sesaat setelah matanya menangkap wajahku. Ia mematung. Setitik air mengalir di pipinya menyusul matanya yang berkaca – kaca. Ia tak lepas memandangku. Tangan kanannya mengusap – usap perutnya sendiri.
“Usia kehamilannya sudah delapan bulan”.

Menghindari Kesombongan : Dikdik Dahlan L.

Di awal surat al Furqan ayat 63 Allah menyebut satu golongan manusia dengan ungkapan Ibadur Rahman, kata majemuk yang terdiri dari kata ‘Ibad dan Rahman. ‘Ibad adalah bentuk jama’ dari ‘abdun yang berarti hamba. Adapun Rahman adalah salah satu asma’ul husna, nama Allah yang Maha Agung yang berarti Maha Pengasih. ‘Ibadur Rahman berarti Hamba – hamba dari yang Maha Pengasih (Allah), sebuah ungkapan yang banyak menanam misteri.
Misteri tersebut akan segera terjawab tatkala membaca kelanjutan ayatnya. Dalam kelanjutan ayat itu, Allah menerangkan tentang ciri - ciri Ibadur Rahman, bahkan sampai meliputi 13 ayat ke depan. Ciri pertama Ibadur Rahman diungkapkan oleh Allah dengan Alladziina yamsyuuna ‘alaa al ardli haunan, yang berarti orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Dan tulisan ini hanya akan mengupas ciri pertama dimaksud.
Dalam bahasa sehari-hari, ungkapan rendah hati sangat berbeda dengan rendah diri. Rendah hati sangat dianjurkan oleh Allah bahkan oleh keseluruhan ajaran agama, sedangkan rendah diri justru ditentang untuk dimiliki. Rendah diri adalah perilaku yang cenderung menghinakan diri sendiri, tidak memiliki kepercayaan diri dan selalu memupuk serta melestarikan sikap pesimisme. Hal ini ditentang oleh Allah dalam berbagai ayatnya. Justru sebaliknya, dengan bekerja keras, bertawakal, dan sikap optimis Allah menganjurkan untuk senantiasa melahirkan karya-karya terbaik yang bermanfaat, agar mampu memegang kendali di masa depan : “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (Q.S. 94 Alam Nasyrah : 7 – 8). Lebih lanjut Allah berfirman : “Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. 59 al Hasyr : 18)
Rendah hati adalah ungkapan yang biasa dipergunakan untuk sikap seseorang yang tidak membanggakan atas apa yang dimiliki, dikuasai, diperoleh maupun jasa yang dilakukannya. Lawan dari sikap rendah hati adalah sombong atau takabur. Sedangkan kesombongan adalah perilaku yang dibenci Allah, bahkan digambarkan oleh Allah sebagai sikap asli yang dimiliki oleh iblis, musuh manusia “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat : “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (Q.S. 2 al – Baqarah 34). Berbeda dengan Malaikat, mereka justru sebaliknya “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri”.
Manusia, memiliki dua potensi yang secara kebetulan satu dengan lainnya bertolak belakang. Setiap manusia memiliki potensi taqwa, juga potensi fujur-nya. Manusia memiliki potensi untuk berlaku rendah hati juga potensi untuk berlaku sombong dan takabur.
Potensi manusia untuk berlaku sombong dan takabur akan muncul ketika manusia diberi anugerah berupa kenikmatan dan kesenangan.
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa”. (Q.S. 17 Al Isra : 83)
Akan tetapi, secara tegas Allah melarang untuk berlaku sombong, sebab kesombongan adalah bentuk lain dari ketidak-jujuran. Tidak jujur mengakui bahwa dirinya tercipta serta lahir dengan proses dan asal kejadian yang sama dengan manusia lainnya. Tidak jujur mengakui bahwa segala kelebihan yang dimilikinya adalah anugerah dari Allah, yang besok atau lusa anugerah itupun bisa dicabut dari genggamannya, beralih kepada orang lain. Tidak jujur mengakui bahwa dirinya memiliki kelemahan. Tidak jujur mengakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.
Kesombongan, juga adalah bentuk lain dari upaya penyiksaan diri. Ketika seseorang berbangga diri atas sesuatu maka sejak saat itu ia harus mempertahankan apa yang dibanggakannya supaya tidak terkalahkan atau tersaingi oleh orang lain. Padahal setiap manusia memiliki keterbatasan masing-masing. Ia akan tersiksa oleh angan-angannya sendiri. Ia pun tersiksa oleh keterbatasannya sendiri. Bahkan hati dan perasaannya selalu dihantui rasa takut dan khawatir oleh sikap dan perbuatannya sendiri.
Kalau pun tidak berakibat menyiksa diri, kesombongan akan berakibat seseorang lupa diri. Merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan, ia lengah dengan kelebihan yang dimiliki orang lain yang bukan mustahil suatu saat mengancam eksistensi dirinya. Merasa bahwa dirinya selalu mampu untuk memiliki dan mendatangkan segala yang diinginkannya, yang muncul kemudian adalah sikap malas. Ia berbangga diri dengan kondisinya saat ini, tapi tidak pernah berpikir untuk meraih kehidupan di masa yang akan datang.
Terakhir, ada baiknya untuk mengambil pelajaran dari kisah Nabi Sulaiman. Ia adalah seorang raja sekaligus seorang hartawan. Ia sebenarnya dipandang wajar untuk berbangga diri, tapi ternyata Nabi Sulaiman hanya berkata : “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’mat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (Q. S. 27 An Naml : 40)

Lima Pesan Memasuki Usia Dewasa : Dikdik Dahlan L.

Orang mukmin meyakini bahwa usia adalah merupakan bagian dari rahasiah Allah. Sependek apapun bagi orang mukmin, usia adalah karunia besar yang seharusnya dijadikan peluang untuk mengabdi kepada Allah (ibadah) sesuai dengan tujuan penciptaanya “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali semata-mata hanya untuk beribadah” (Ad Dzariat 56)
Semakin panjang usia seseorang berarti semakin besar peluang yang diberikan Allah untuk menabung kebaikan, dan itu, sekali lagi adalah rahasia Allah semata. Sebaliknya, semakin bertambah usia pada dasarnya adalah semakin tipis peluang untuk menabung kebaikan itu. Pantaslah kiranya dalam surat al-Ahqaf 15 Allah memberikan nasihat kepada segenap orang mukmin terutama yang telah memasuki usia 40 (empat puluh tahun) untuk senantiasa mengingat dan memohon tentang 5 (lima) hal. Allah berfirman :
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a : “Ya Tuhanku tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan susungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. Q.S. Al-Ahqaf 46 : 15)
Nasihat pertama adalah memohon petunjuk kepada Allah agar pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Begitu pentingnya bersyukur sampai Allah berjanji untuk melipat-gandakan kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka yang mau bersyukur.
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur , pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim 14 : 7).
Kedua, berdoa dan memohon petunjuk agar mampu melakukan amal shaleh yang diridloi oleh Allah. Amal shaleh, dalam pandangan orang mu’min tentu adalah amal/kegiatan yang bernilai ibadah.
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. al-Kahfi : 110)
Ketiga, berdoa dan memohon petunjuk Allah agar diberi kebaikan berupa kebaikan anak cucu (keturunan). Kebaikan yang dimohon tentu adalah kebaikan di dunia maupun kebaikan di akhirat kelak. Hal ini sesuai dengan tuntunan doa :
“…. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa” (Q.S. al – Furqan 25 : 74)

Dua hal terakhir yang juga dinasihatkan oleh Allah kepada mu’min dewasa terutama yang telah memasuki usia 40 (empat puluh) tahun adalah bertaubat dan menjaga serta melestarikan kemusliman.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (at Tahrim 66 : 8)
Untuk memenuhi diterimanya taubat, para ulama telah memberikan persyaratan, seperti : adanya rasa penyesalan telah melakukan perbuatan yang buruk/maksiat, berjanji dalam hati untuk tidak mengulang perbuatan serupa, memperbanyak istighfar, dan mengiringi taubat itu dengan berbagai kegiatan yang baik di sisi Allah.
Terakhir, adalah menjaga dan melestarikan kemusliman. Arti dari akar kata Muslim adalah berserah diri, yaitu berserah diri kepada Allah. Identitas kemusliman ini bahkan selayaknya tetap dijaga dan dilestarikan sampai akhir hayat. Hal ini sesuai dengan firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Q.S. Ali Imran 3 : 102)
Menjaga dan melestarikan identitas kemusliman yang paling utama tentu bukan sekedar ikrar dengan lisan, tetapi harus pula dibuktikan dengan perbuatan. Identitas kemusliman yang berarti berserah diri secara total kepada Allah adalah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menghindari segala larangan-Nya. Dengan tetap memegang teguh identitas kemusliman dalam wujud berserah diri secara total sepanjang masa. Insya Allah orang tersebut senantiasa siap dan tidak khawatir apalagi takut menghadapi kematian sebagai pintu gerbang untuk mendapatkan kenikmatan yang kekal dari Allah.


Senin, 12 April 2010

Titip Do'a untuk Cucu : Dikdik Dahlan L.

Setelah selama enam hari bergelut dengan setumpuk pekerjaan teriring sekian persoalan yang datang silih berganti, setiap Sabtu siang selalu menyempatkan diri pulang kampung menengok keluarga. Kurang lebih empat jam lamanya waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak dari Bandung ke rumah mertua dan selalu menyisakan rasa capek serta pegal linu di beberapa persendian. Satu kali jalan, paling tidak harus empat kali berganti kendaraan roda empat plus satu kali naik ojeg.
Sudah lebih dari empat tahun hal itu dijalani terhias suka-duka. Di satu sisi, tersimpan satu kebanggaan karena si kecil yang baru berusia tiga setengah tahun itu selama ini dibesarkan di tengah keakraban dengan alam pegunungan, bersama hijaunya rerumputan, bersama nakalnya ayam, bebek, bahkan ikan di kolam pinggir rumah. Ia bahkan sekarang lebih pandai ketimbang ayahnya sendiri berlari di pematang sawah. Di lain sisi, terbesit perasaan berdosa karena dalam seminggu, sebagai seorang ayah hanya mampu menyisakan waktu selama satu hari dua malam untuk bercengkrama.
Setiap Sabtu sore atau sudah masuk dalam kegelapan malam, bila ada suara motor yang berhenti di depan rumah, si kecil pasti berlari dan memastikan bahwa yang turun dari ojeg itu adalah ayahnya. Ia menghampiriku, menyalamiku, kemudian aku memangku dan memeluknya. Ia tersenyum, dan sekejap saja kami sudah terlibat dalam obrolan antara seorang ayah dengan anaknya. Sesekali kalau aku membawa sesuatu, ia pasti akan bertanya tentang apa yang dibawa, dan untuk siapa bawaan itu. Sekejap saja, rasa capek dan pegal linu setelah empat jam perjalanan, setelah enam hari memeras otak dan tenaga di tempat kerja hilang di balik senyum mungil si kecil yang selama dalam pangkuanku ia bercerita tentang layangannya yang putus, tentang pedangnya yang patah, atau tentang pensil dan penghapusnya yang minta diganti karena hilang. Beberapa kali air mata ini sempat berlinang sekalipun selalu berhasil kusembunyikan dihadapannya. Itulah barangkali, bukti bahwa anak adalah perhiasan kehidupan, sehingga tenaga dan pikiran, lelah dan kantuk sering hilang dengan sendirinya ketika si kecil melempar senyum dan menyapa dengan kelembutannya. Hanya saja, kita sering lupa kalau kita pernah kecil seperti si kecil sekarang yang selalu menumbuhkan kebanggaan, membesarkan hati, memompa semangat bahkan menjadi pelepas dahaga orang tua. Karena keangkuhan, ketakaburan dan berlindung dari “kesibukan” sering kita lupa akan tugas kita untuk mengembangkan senyum orang tua yang sudah mulai renta. Bahkan sering pula kita dengan sengaja tak mau mendengar sekedar cerita atau keluhan orang tua yang dilontarkanya secara terbata-bata.
“Robighfirli wa liwalidaya warhamhuma kama robbayani shagira” do’a itulah yang diajarkan kepada si kecil beberapa hari ini kalau kebetulan ia minta uang jajan. Ia tak akan menerima uang recehan sebelum dengan lantang mengucapkan doa itu. Sengaja hal ini dipaksakan sejak dini kepada si kecil dengan harapan agar anaknya (cucuku) kelak pun pandai mendo’akannya, bukan sekedar senyum, bukan sekedar menyerahkan oleh-oleh setiap kali datang menjenguk, tapi lebih dalam lagi adalah ketulusan do’a dan pancaran kebahagiaan dari raut wajah orang tua sebagai imbas dari sikap untuk membahagiakannya. (Tulisan ini pernah dipublikasikan di Buletin Gema Mujahidin Bandung, saat usia anak cikalku berusia 3 tahun lebih)

Pengaduan : Dikdik Dahlan L

Ketika tulisan ini sampai di tangan para pembaca, saya tepat berusia 41 tahun. Tanggal yang disebut sebagai tanggal kelahiran saya itu sebenarnya bukan tanggal yang pasti karena di ijazah Sekolah Dasar, dulu tertulis 12 Juni kemudian di rubah menjadi 13 Juli sekedar untuk menyeragamkan dengan ijazah SLTP, SMU bahkan Sertifikat Taman Kanak-kanak. Sedangkan ayah saya semasa hidupnya berkeyakinan bahwa tanggal kelahiran saya adalah tanggal 11 Juni.
Kenangan masa kanak-kanak sering menjadi hiasan indah dalam kehidupan seseorang. Bagi saya, kebahagiaan itu mungkin sedikit terbatasi karena harus bergelut dengan sebuah penyakit yang menyerang selama kurang lebih tiga tahun. Namun demikian, seperti anak-anak lainnya saya sempat menikmati bermain petak umpet, berlari menelusuri gang-gang, atau bahkan bertengkar, beradu mulut dan biasanya berakhir dengan tangisan.
Ada yang menarik dan sering harus tertawa sendiri kalau mengingat pertengkaran di antara kami, sewaktu masih tergolong ingusan. Waktu itu, kalau bertengkar, biasanya kami menyebut seseorang atau sesuatu yang dijadikan tempat pengaduan dan kemudian lawan bicara pun akan mencari tempat pengaduan yang lebih tinggi, lebih disegani dan lebih ditakuti. Bila lawan bicara menyebut kakaknya sebagai tempat pengaduan, maka saya akan menyebut ayah sebagai tempat pengaduan, kemudian si lawan bicara pun mencari pengaduan yang sekiranya dapat mengalahkan ayah.
“Sok, bejakeun siah ka pulisi (saya adukan kamu ke polisi)”
Mendengar polisi yang menjadi tempat pengaduannya maka saya akan berkata : “Keun bae, bejaken wae ka tentara ! (enggak masalah, saya adukan saja kamu ke tentara !)”
“Sok, abdi mah rek bebeja wae ka Presiden ! (Silahkan, saya akan mengadukan kamu kepada presiden !)”.
Dalam benak kami, anak-anak ingusan saat itu, presiden adalah orang yang paling tinggi, paling disegani, dan tidak ada manusia lain yang bisa menandinginya. Polisi, maupun tentara saja yang dilengkapi dengan berbagai senjata sekalipun, tetap harus tunduk kepada perintah presiden. Maka, tidak ada pilihan lain kecuali membawa nama tuhan :
“Keun bae, bejakeun wae ka Allah (enggak masalah, saya adukan saja kamu kepada Allah !)”
Mendengar Allah yang dijadikan tempat pengaduan, kontan anak yang menjadi lawan pertengkaran terdiam dan biasanya langsung menangis. Allah, dalam pandangan kami yang masih ingusan waktu itu, adalah Dzat yang paling tinggi, paling perkasa, paling berkuasa, dan tidak mungkin ada sesuatu pun yang mampu melebihi kebesaran, dan keperkasaan-Nya. Dalam pandangan kami, segala kehendak dan keputusan Allah tidak mungkin dapat dicegah atau ditolak oleh hamparan laut yang luas, oleh gunung yang berdiri kokoh, oleh gajah yang kami kenal sebagai hewan terbesar, termasuk oleh seorang presiden yang polisi dan tentara saja tunduk kepadanya.
Tapi itu dulu, kurang dari tiga puluh tahun silam. Sekarang, tahun 2001 ini, polisi sudah berani “membangkang” kepada presiden, dan sang presiden pun mulai berani protes pada Tuhan. Jadi, kalau dulu anak yang bertengkar setelah mendengar Allah sebagai tempat pengaduan menangis, saya khawatir anak-anak sekarang malah tertawa dan dia bilang : “Ah, teu sieun ku Allah ayeuna mah, bejakeun wae ka Gus Dur (Ngapain, sekarang udah kagak takut lagi sama Allah, saya adukan kamu ke Gus Dur)”

Hati dan Lidah : Dikdik Dahlan L.

Alkisah seseorang dipanggil oleh majikannya. Ia disuruh untuk menyembelih seekor kambing. Lalu majikannya berkata : “Pilihkan bagiku bagian mana dari tubuh kambing itu yang paling baik !”
Setelah menyembelih kambing, sebagaimana titah majikannya tadi, ia menyuguhkan hati dan lidah kambing untuk sang majikan.
Entah apa yang dilakukan si majikan setelah menerima kedua bagian tubuh kambing itu. Selang beberapa hari, si majikan kembali meminta untuk disembelihkan lagi seekor kambing, dan berkata lagi : "Sekarang, pilihkan bagiku bagian yang paling buruk dari tubuh kambing itu !”
Kambing kedua disembelih lagi sebagaimana titah majikannya, lalu kembali ia menyerahkan hati dan lidah kambing kepada majikannya.
Melihat apa yang disuguhkan di hadapannya, muka si majikan terlihat sedikit memerah menahan amarah, lalu ia memanggil orang yang menyuguhkan hati dan lidah sekaligus penyembelih kambing tadi.
“Telah lama engkau bersamaku, mengapa hari ini engkau berani mempermainkanku ?”
“Ampun tuanku, sudikah tuan menjelaskan apa sebenarnya dosa yang telah saya perbuat ?”
“Beberapa hari yang lalu saya menyuruh engkau menyembelih kambing dan meminta agar engkau menunjukkan dua bagian tubuh kambing yang paling baik. Engkau menyerahkan hati dan lidah kambing kepadaku. Tapi ketika aku menyuruh hal yang sama dan sekarang engkau kupinta untuk memilihkan bagian tubuh yang paling buruk, engkau kembali menyerahkan hati dan lidah kambing seperti yang kau serahkan kepadaku beberapa hari yang lalu. Bukankah ini bukti bahwa engkau telah mempermainkan aku ?” si majikan menjelaskan kekesalannya.
“Ampun tuanku, dalam pandangan saya, hati dan lidah adalah sebaik-baiknya bagian tubuh seseorang, tetapi bisa juga menjadi bagian terburuk dari tubuh seseorang. Kebaikan dan keburukan seseorang sangat bergantung kepada apa yang tersirat dalam hatinya. Kebaikan dan keburukan lidah seseorang, sebagaimana hatinya, lidah pun sangat mempengaruhi kebaikan, keburukan bahkan keselamatan si pemilik lidah. Tidak sedikit orang yang meninggalkan shalat berjama’ah dan memilih munfarid hanya karena “tidak suka” kepada imam. Tidak sedikit pula orang yang terbunuh akibat tidak bisa menjaga lidah”. (Tulisan ini pernah dipublikasikan di Buletin Gema Mujahidin – Bandung)

Semangat Hijrah : Dikdik Dahlan L.

Begitu monumentalnya kejadian hijrah Nabi sehingga kejadian ini dijadikan tonggak pemberlakuan tahun hijriyah dan sekaligus mengalahkan pamor moment – moment lain yang dialami Nabi serta para shahabatnya, seperti waktu kelahiran Nabi, Nuzul Al – Qur’an, Isra Mi’raj, Perang Badar, Futh Makkah dan lain-lain. Kejadian hijrah Nabi menjadi awal pembangunan serta peletakkan sendi dan dasar pemberlakuan syariat Islam yang pada saat itu masih asing bahkan dianggap mengancam dan merusak tatanan kehidupan bangsa Quraisy yang dianggapnya sudah mapan. Karena itu kaum kufar Makkah selalu memburu Muhammad dan pengikutnya, sekalipun Rasulullah sudah berada di luar kota Makkah. Perang Badar, Perang Uhud dan serentetan pertempuran lainnya adalah bukti reaksi mereka terhadap apa yang disampaikan oleh Nabi yang jelas-jelas bertolak belakang dengan nafsu mereka.
Agenda pertama dan utama yang dilakukan oleh Nabi sesampainya di Kota Yastrib adalah menjalin persaudaraan antara pendatang dan penduduk asli Yastrib, sekalipun istilah dan penyebutan tetap membedakannya; Muhajirin (untuk pendatang dari Makkah) dan Anshor (untuk penduduk asli Kota Yastrib). Keduanya dipersaudarakan oleh Rasulullah dan hidup rukun dibawah pimpinan serta pembinaan Nabi, karenanya kota ini kemudian disebut Madinatun-nabi (Medinah).
Persatuan dan persaudaraan inilah yang kemudian menjadi nafas kehidupan mereka, membangkitkan rasa percaya diri mereka untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik. Lihatlah Salman Alfarisi, asalnya ia adalah seorang budak yang tidak lama setelah kejadian hijrah itu ia kemudian dimerdekakan oleh Rasulullah atas biaya bersama. Persaudaraan yang ditanamkan Rasulullah menumbuhkan kepercayaan diri Salman Al-Farisi untuk menyampaikan gagasan strategi perang. Nama Salman sampai saat ini masih harum dan dikagumi sekalipun jasadnya sudah terbujur kaku sejak empat belas abad yang lalu. Abdurrahman bin Auf, ia datang ke Medinah tanpa kekayaan sedikitpun. Tapi karena kepercayaan diri yang ditanamkan oleh Rasulullah, ia tidak meminta dibelas kasihani, ia hanya minta ditunjuki jalan ke pasar, dan dalam waktu yang singkat Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai salah seorang saudagar terkemuka. Demikian juga ketika genderang perang Badar ditabuh oleh kaum Quraisy, kepercayaan diri yang tumbuh dikalangan kaum muslimin menjadikannya mampu memukul mundur 1000 orang pasukan kaum Quraisy dan memaksanya pulang dengan kekalahan, kepedihan dan dendam membara, padahal kaum muslimin sendiri hanya berjumlah 313 orang, dengan kesiapan dan perlengkapan seadanya.
Kehidupan kaum Muslimin di Kota Medinah adalah awal kehidupan yang bersendikan syariat Islam yang sebenar-benarnya, terbebas dari perilaku jahiliyah yang salah satunya selalu menggantungkan diri kepada ramalan, spekulasi dan kepercayan yang tidak berdasar seperti tathoyur dan lain sebagainya. Kehidupan kaum muslimin di Kota Medinah adalah kehidupan yang selalu ditopang dengan kepercayaan diri, langkah rasional, sedia mau melakukan koreksi dan introspeksi disertai semangat tawakal sebagai ruh untuk melakukan inofasi dan kreasi.

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah engkau. Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa merenungkan, melihat, menoleh ke masa lampau, supaya pengalaman masa lalu itu menjadi bekal untuk menyongsong masa depannya. Bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang engkau kerjakan”

Insyirah : bila engkau telah selesai menunaikan sebuah tugas dan aktivitas, hendaklah engkau bengkit kembali dan sandarkanlah harapanmu pada Tuhanmu.

Serakah : Dikdik Dahlan L.

Menjelang maghrib, di sebuah sudut stasiun Kiara condong berkumpul tiga orang manusia berbeda usia. Dua diantara mereka adalah perempuan, satu berusia lanjut dan yang lainnya masih anak-anak. Kedua orang ini sepertinya pasangan seorang nenek dengan cucunya. Sedangkan satu orang lagi diperkirakan berumur antara 35 sampai 40 tahun, masih belia. Ia mengenakan pakaian wanita, memakai lipstik juga celak mata dan bersepatu hak tinggi. Tapi suara dan beberapa bagian tubuhnya tidak bisa ia sembunyikan dari identitas sebenarnya, laki-laki. Dari tadi, ia selalu memanggil dirinya dengan nama Rosa.
“Iih, hari ini mah Rosa sial. Masa cuma dapet delapan belas ribu perak”
“Emangnya Rosa pingin dapet berapa ?”
“Biasanya juga enggak kurang dari tiga puluh. Emang apes, ini hari mah. Ema sendiri dapet berapa ?”
“Kalau bagi ema mah, berapa pun sih, ya disyukuri saja. Wong, kita cuma minta – minta, kok. Modal kita mah cuma menahan malu”. Tangannya meraih kepala si cucu yang tengah terkantuk-kantuk, lalu disandarkannya di dadanya sendiri.
“Emangnya ema malu ?
“Dulu sih iya, tapi sekarang mah enggak. Nagapain pake malu segala, tuh banyak orang yang serakah, pada enggak malu…”
“Tapi, serakah itu bisa jadi maju lho “. potong rosa, centil. ”Contonya, dulu orang Belanda, ngapain mereka datang ke Indonesia kalau bukan di dorong oleh sifat keserakahan, lalu mereka menjajah kita. Nah, sekarang juga banyak orang yang sedang mencoba meneliti tentang kemungkinan hidup di beberapa planet selain bumi. Apa itu bukan serakah. Ema juga kalau lagi ngamen suka melihat orang-orang berdasi. Mereka itu juga sama engga cukup dengan yang dimilikinya sekarang. Sudah suaminya bekerja, istrinya bekerja juga, eeh di rumahnya buka juga warung. Malah di kantor mereka, masing-masing punya sampingan. Kita mah cuma ngamen, titik. Itupun dengan mengorbankan anak cucu yang sengaja tidak kita sekolahkan. Rosa yakin, kalau ema engga bawa cucu, pendapatan ema engga bakal segitu banyak. Jadi memang harus serakah ?”
“Aah, sudah. Bingung ema mah, pake ngomong-ngomong planet segala. Tuh keretanya sudah datang”.
(Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Buletin Gema Mujahidin - Bandung)

Ikhlas : Dikdik Dahlan L.

Kecewa, sebuah kata yang sebenarnya selalu diupayakan untuk dihindari. Kecewa, sering datag manakala kenyataan justru tak sepadan atau bahkan bertentangan dengan harapan. Kekecewaan akan semakin memuncak ketika kenyataan yang tidak sesuai harapan itu merupakan ujung dari perjalanan yang berliku dan melelahkan. Kecewa, nampaknya tidak mungkin menimpa manakala segala sesuatu yang dikerjakan selalu dalam bingkai tawakal. Faidza faragta fanshab wa ila rabbika farghab.
Dari firman Allah di atas dapat dipahami bahwa kata kunci dari semua itu adalah keikhlasan. Keikhlasan selalu membina agar segala sesuatu yang dikerjakan diserahkan seluruhnya kepada Allah semata yang pasti Maha Mengetahui, yang pasti Maha Bijaksana. Tidak berharap pujian, tidak berharap pengembalian atau menggantungkan harapan – harapan lain. Ketika sesuatu disikapi sebaliknya, bersiaplah untuk menerima kekecewaan, bersiaplah untuk merasa bahwa waktu dan segala pengorbanan itu bisa tidak berarti apa – apa, karena mungkin puncak dari perjalanan itu justru tidak memenuhi harapan.
Ikhlas terbenam dalam niat hati, dan niat adalah pengikat sekaligus penentu amal. Keikhlasan seseorang benar- benar menjadi sangat penting agar hidup terasa lebih bermakna, mudah, dan indah.
Orang Ikhlas adalah orang yang memusatkan perhatian dan segala aktivitasnya hanya untuk dan kepada Allah semata. Ia mencari dan mengeluarkan harta di jalan dan sesuai dengan ketentuan Allah. Tidak ada rekayasa apapun, karena ia sangat sadar justru Allah Maha Memiliki segala rekayasa, apalagi Allah tidak pernah berkepentingan dengan segala rekayasa manusia. Justru sebaliknya, manusia yang sangat bergantung kepada rekayasa Allah semata.
Orang yang ikhlas selalu memancarkan kekuatan ruhiyah yang dahsyat, karena tutur katanya, dan segala perilakunya mengalir bagai aliran air bening dari hulu ke hilir. Setiap orang akan selalu tenang dan merasa aman hidup berdampingan dengan orang yang ikhlas. Setiap orang yang berhubungan dengan dirinya tak perlu menaruh curiga kalau dirinya akan ditipu daya. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya selalu ringan, mudah dan memberikan kesejukan, tidak memekakan telinga, tidak membuat hati teriris, tidak pula mengundang nafsu amarah orang yang di ajak bicara.
Demikian pula dengan perilakunya, tidak pernah menyempitkan apalagi menyudutkan, yang dikembangkan justru selalu memberi kelapangan. Setiap yang dikatakan dan diperbuatnya adalah kata-kata terbaik dan perbuatan terbaiknya. Ia ingin selalu memberikan yang terbaik bagi siapapun. Sungguh merupakan kenikmatan tersendiri bagi mereka yang berteman dengan orang – orang yang ikhlas. Dengan kekuatan keikhlasan yang dimilikinya, orang – orang ikhlas akan selalu berihsan (berbuat dan berkata yang terbaik) dengan sesama manusia seperti upayanya menyuguhkan pengabdian terbaiknya dihadapan Allah. Semoga. (Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Buletin Gema Mujahidin – Bandung)

Minggu, 11 April 2010

Rumitnya Pengangguran dan Rendahnya Kemauan : Dikdik Dahlan L.

Konon sekira 40 % dari angkatan kerja bangsa Indonesia saat ini tergolong sebagai penganggur alias tidak punya pekerjaan yang menghasilkan nafkah. Diperkirakan setiap tahunnya angka itu akan terus membengkak sebanyak satu juta orang pertahun apabila kondisi perekonomian bangsa gemah ripah loh jinawi ini tidak berubah. Anak – anak muda Jawa Barat yang tergolong ke dalam angka 40 % itu suka berseloroh menamakan dirinya sebagai “pejabat”, pengangguran Jawa Barat. Agak kepinggir sedikit, mereka menyebutnya Ujang atau Neng “Hardolin” yang kerjaan sehari – harinya hanya sekedar dahar, (maaf) modol dan ulin (Makan, Buang Air Besar dan Main- main).
Dalam sebuah obrolan teman saya ada yang su’udzhon, konon katanya pula sebagian golongan yang saat ini ramai – ramai ikut bursa calon legislative, terutama untuk tingkat Kabupaten dan Kota tidak sedikit yang berasal dari para penganggur. Bedanya, sedikit diantara mereka ada yang diembel – embeli oleh gelar kesarjanaan sehingga kerennya disebut “penganggur intelek”, atau secara kebetulan punya “modal”, baik berupa uang bapaknya, berupa peluang karena pengabdiannya kepada partai atau sekedar modal nekad plus tebal muka untuk sekedar luar – leor dina raraga ngedeukeutan, ngadeuheus, ngadodoho bahkan mungkin ngabeubeutkeun batur sakastrol. Padahal, modal yang disebut “modal” Caleg itu minimal sakieu keur pendaftaran, sakitu kontribusi ka partai, sa-eheu keur kampanye, pokna transparan.
Pengangguran dan lapangan kerja seperti menjadi momok menyeramkan terutama di kalangan para petinggi negara. Mereka mungkin sadar kadzal fakru ayakunal kufro, kondisi fakir yang diderita oleh seseorang sangat mungkin memotivasi untuk berbuat kufur. Pengangguran ditakutkan akan menjadi penyulut merebaknya kriminalitas.
Konon, kata Aa Gym sebenarnya tidak perlu ada pengangguran kalau mau melaksanakan kita 3M-nya, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari yang kecil. Cukupkah wejangan Aa Gym itu ?
Dalam sebuah film mandarin yang sudah lupa judul dan pemerannya ada satu dialog yang sampai detik ini masih teringat sekalipun film itu dijajakan di bioskop bioskop sekira sepuluh tahun yang lalu. Dihadapan gurunya, seorang murid mengadu tentang sukarnya latihan yang harus ia jalani “Aku tidak mampu”. Gurunya menimpali “Bukan tidak mampu, tidak mau”. Sejak itu semakin lengketlah dengan ungkapan “ada kemauan ada jalan”, “Banyak jalan menuju Roma”. Dalam bahasa agama, kemauan itu mungkin adalah niat : innamal ‘amalu bin niyat. Bukan sekedar amal yang mengiringi niat tapi lebih dari itu niat memotivasi dan menjiwai amal. (Tulisan ini pernah dipublikasikan di Buletin Gema Mujahidin – Bandung)

Abah Uca Owah : Dikdik Dahlan L.

Terhitung sejak tanggal 6 Juli 2004 Abah Uca kelihatan murung. Selain sekedar pergi ke mesjid untuk berjama’ah shalat fardlu lima waktu, hari-hari Abah Uca hanya dihabiskan untuk mengurung diri di dalam rumahnya.
Namun dua hari terakhir ini, sama sekali malah tidak terlihat batang hidungnya, sekalipun di teras mesjid. Memperhatikan gelagat ini, salah seorang jama’ah yang masih tergolong muda, menyengaja datang menjenguk ke rumah Abah Uca. Cukup lama ia mematung di depan daun pintu menunggu jawaban salamnya. Baru kali ketiga ucapan salamnya ada yang menjawab, dan tak lain adalah Abah Uca sendiri. Keheranan semakin menjadi setelah matanya secara tak sengaja melihat sebuah tas ransel, seonggok dus bertali rapia dan sehelai tikar yang tergulung rapi.
“Barang punya siapa, Bah ?”
“Punya Abah “
“Memangnya mau ke mana ?” susulnya
“Tapa”
“Oooh…. Pasti Abah kecewa dengan hasil pemilu presiden kemarin, ya ?
“Apa mungkin Allah sudah buta ?”
“Ditanya, kok malah balik nanya, si Abah mah !”
“Tapi, begitu ‘kan realitasnya ? Hampir semua orang meyakini kebersihan, keberanian dan kecerdasannya, tapi semua orang meninggalkannya”.
“Kita ambil saja hikmahnya !”
“Itu mah retorika orang kalah” sungutnya sambil melotot
“Sepak bola juga ada yang kalah dan menang atuh Bah. Tuh di DPR juga kalau enggak bisa diambil secara mupakat mah, diambil voting, ada yang menang dan kalah juga “
“Termasuk kalah dicurangi ?”
“Hiss, jangan gegabah nanti terdengar sama cakcak bodas ! Kalau memang ada bukti, adukan saja atuh, Bah ! Yang pasti jangan mengira – ngira apalagi menuduh dan memfitnah. Jangan – jangan, karena kita yang gegabah ngomong, idola Abah yang bersih, jujur dan berani itu malah jadi ternoda oleh bibir Abah sendiri. Kalau ada indikasi kecurangan, barangkali karena Tim Sukses Capres Abah itu maksimal dalam kampanye tapi tidak memiliki senjata ampuh untuk menangkal berbagai indikasi kecurangan selama dan pasca Pemilu. Nah, mungkin inilah salah satu hikmah yang dapat kita petik”
“Hikmah – hikmah, weh. Ateul aing mah !”
“Owah sugan si Abah teh ?” (Tulisan ini pernah dipublikasikan di Buletin Gema Mujahidin – Bandung)

Abah Uca Unjuk Rasa : Dikdik Dahlan L.

Dihadapkan dengan nama-nama Akbar Tanjung, Megawati, Amien Rais, dan Abdurrahman Wahid, Abah Uca jelas tidak ada apa-apanya. Orang yang kenal kepada Abah Uca mungkin hanya sebatas kerabat, teman lama dan warga sekampung, tapi kepada Ketua umum Golkar, PDI Perjuangan, Ketua PAN apalagi Presiden mungkin hanya hitungan jari yang tidak mengenalnya. Bahkan akhir-akhir ini, keempat nama tadi seakan-akan menjadi maskot berbagai unjuk rasa, kerusuhan, demonstrasi, dan sewaktu-waktu nyaris menjadi “Nabi” atau justru sebaliknya diposisikan sebagai kambing hitam dengan resiko setiap saat mesti siap untuk dijegal, ditendang bahkan dibuang sekalipun.
Adalah Abah Uca, hari itu berdandan beda dengan hari-hari biasanya. Selepas shalat shubuh ia turun dari rumah panggungnya bercelana hitam rapi, bersepatu mengkilap dengan rambut tersisir rapi tanpa topi, tanpa kopiah bahkan cenderung lengket menyebarkan aroma wangi minyak rambut. Dari lehernya tergantung selembar dasi berwarna hitam garis putih menutup sebagian bulatan kancing bajunya yang berwarna putih, rapi dan juga menebar wangi parfum bahkan sedikit agak menyengat.
Hari itu, setiap orang yang berpapasan dengan Abah Uca dapat dipastikan muncul keinginan sekalipun sekedar untuk melirik apa yang ditempelkan di baju putihnya. Di dada kirinya tergantung gambar plus tulisan “Abdurrahman Wahid No !”, kemudian dibawahnya gambar plus tulisan “Akbar Tanjung No !”, sedangkan di dada kirinya tergantung pula gambar dan tulisan “Amien Rais No !” kemudian di bawahnya gambar plus tulisan “Megawati No !”.
Seharian penuh ia berjalan menelusuri jalan ramai, keluar masuk gang, tempat perbelanjaan bahkan untuk beberapa saat sering menyengaja berdiri mematung di perempatan atau pertigaan jalan. Seharian penuh pula ia nyaris menjadi tontonan gratis sekalipun tidak terlalu menghibur, kecuali pada saat ia dipanggil untuk bersujud menunaikan shalat fardlu. Ia berganti pakaian : berpeci hitam, memakai baju takwa, dan bersarung. Sedangkan pakaian “dinasnya” hari itu, sesaat sebelum wudlu pun sudah dilipatnya. Ketika ditanya alasan ganti pakaian, Abah Uca menjawab : “Kadang-kadang di tengah-tengah pergulatan ritual dengan Tuhan pun, manusia tidak jujur”.
Setelah shalat, pakaian “dinasnya” dipakainya lagi, kemudian berjalan lagi, menjadi tontonan lagi serta setiap orang yang berpapasan selalu melirik, dan membaca lagi apa yang ditempelkan di bajunya. Abah Uca sendiri terus berjalan tak acuh, tanpa ekspresi, seakan-akan tak terjadi apa- apa dengan dirinya. Ia hanya membalas anggukan kepala dan senyum kepada orang yang melempar senyum dan anggukan kepala atau menerima jabat tangan dari orang yang sengaja ingin berjabat tangan. Setelah itu, setelah berlalu dari hadapannya, Abah Uca kembali berjalan tanpa ekspresi. Berbeda dengan orang yang memperhatikannya. Setiap orang yang berhasil membaca serta menyimak gambar dan tulisan di bagian depan baju Abah Uca dapat dipastikan terdorong pula untuk melirik kembali sosok lelaki berangsur renta itu sekalipun hanya sekedar melihat punggungnya. Tapi justru dipunggungnya, kembali orang terperangah dan berusaha untuk kembali membaca sesuatu. Di punggung baju putih Abah Uca tergambar sebuah kepulan asap yang berpangkal dari belahan celana bagian pantatnya seakan-akan menggambarkan kepulan asap “kentut”. Di bagian dalam gambar kepulan asap itu jelas tertulis : “KEJUJURAN, YES !”. (Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Gema Mujahidin – Bandung)

Kegelisahan Abah Uca : Dikdik Dahlan L.

“Waktu itu dingin, tidak berperikemanusiaan, tidak berperikebinatangan bahkan sama sekali tidak berperikemakhlukan. Seluruh makhluk, tidak dikecualikan selalu bergesekan dengan waktu, tidak hanya bertetangga tapi hidup bersama waktu. Tapi waktu memang begitu, tak mau tahu dengan persoalan orang lain. Coba bayangkan, betapa banyak mahasiswa yang terancam drop out, tapi karena memang sibuk demo, boro – boro ngegarap skripsi. Nah, waktu mah enggak mau tahu, terus aja menggerogoti kesempatan”.
“Waktu itu memang bebal. Saya ini udah bosan hidup, saya perkirakan paling cuma tiga atau empat tahun lagi kesempatan hidup saya. Tapi dasar waktu, dia enggak mau khianat dengan mempercepat langkahnya. Apa memang saya ini sudah bosan hidup ? Bagaimana tidak bosan ? Orang lain mah dalam waktu satu jam saja bisa menghasilkan uang sekian juta rupiah, buat kita mah boro – boro satu juta, seribu perak juga kadang sampai kadang tidak. Orang lain mah dalam waktu dua puluh empat jam teh bisa mengurus rakyat, memberikan ketenangan dan keamanan kepada sekian juta manusia, kita mah dalam tempo yang sama malah sering tidak bisa memanfaatkan waktu hanya sekedar mengurusi diri sendiri. Orang lain mah dalam waktu delapan jam waktu kerja teh bisa menghasilkan sekian kemanfaatan kepada orang lain, kita mah dalam waktu yang sama itu hanya bisa termanfaatkan untuk makan, main dan melamun tak berujung, tak berpangkal. Orang lain mah tidur teh cukup hanya empat sampai lima jam sehari, kita mah sepuluh jam saja belum cukup. Lebih parah lagi, kita mah makan teh hanya butuh waktu tidak lebih dari 30 menit, orang lain mah sepuluh menit juga cukup”.
“Kalau saja waktu itu bisa diatur sedemikian rupa, barangkali tidak sepatutnya saya harus bosan hidup. Apa memang waktu itu tidak bisa diatur ? Ah, kayaknya bisa. Atau justru kita yang di atur waktu ? Memangnya waktu bisa ngatur ? Bukankah manusia makhluk paling sempurna ? Lalu waktu itu apa ?
“Kata sebagian orang, waktu itu adalah uang. Karena itu, bagi mereka tidak mengherankan kalau setiap detik dalam benaknya adalah bagaimana cara mengeruk uang sebanyak – banyaknya. Kata yang lain, waktu itu adalah pedang, seperti sebuah benda mati yang tajam dan dahulu biasa dipergunakan sebagai senjata melawan musuh. Memangnya waktu itu seluruhnya hanya untuk melawan musuh ? Kalau tidak punya musuh ? Apa mugkin pedang itu bisa melukai tuannya ? Sangat mungkin, seperti juga waktu, kalau tidak dimanfaatkan, secara perlahan bisa membunuh siapa saja; membunuh cita dan harapan seseorang. Nah, kalau menurut kita sendiri apa ? Apa bagi kita, waktu itu uang, pedang, kambing, kebo, atau … ? Tik, tok, tik, tok… satu menit. Tik, tok, tik, tok… dua menit …, terus saja berjalan si kehed mah, tidak peduli saya teh lagi mikirin manehna“. Gerutunya, sambil melilitkan serban ke lehernya menahan dingin malam tahun baru. Dari tempat duduknya di beranda rumah, lewat celah daun pintu yang terbuka sedikit ia menengok jam dinding yang menempel di ruang tengah.
“Sabelas saparapat, empat lima menit lagi …” (Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Gema Mujahidin - Bandung)

Kerugian : Dikdik Dahlan L

Allah mempergunakan kata “waktu” untuk menunjuk kerugian yang dialami sebagian besar manusia. Kerugian sebenar-benarnya kerugian, karena pernyataan ini datang justru langsung dari Allah, pencipta dan pengawas serta hakim segenap manusia. Pernyataan ini tentu tidak akan pernah digubris dan dianggap angin lalu saja oleh orang yang tidak pernah mengenal Allah, tidak meyakini akan kehidupan akhirat kelak. Sebaliknya, pernyataan ini justru akan senantiasa menjadi salah satu rambu utama bagi mereka yang memiliki harapan merenggut kebahagiaan dunia akhirat, yang jelas-jelas juga dijanjikan oleh Allah. Kebahagiaan hakiki, yang kadang sulit pula dimengerti oleh manusia. Kebahagiaan hakiki yang sering datang secara rahasia dan tersembunyi.
Berkenaan dengan putaran waktu, dalam surat Al-Hasyr ayat 18 – 19 Allah telah wanti-wanti mengingatkan “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah engkau. Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa merenungkan, melihat, menoleh ke masa lampau, supaya pengalaman masa lalu itu menjadi bekal untuk menyongsong masa depannya. Bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang engkau kerjakan”
Allah mengingatkan hendaknya orang-orang Mukmin mempunyai semacam kesadaran sejarah masa lalu. Hal-hal yang sudah dilalui hendaknya dicamkan, ditelaah, dan dicermati. Hal-hal yang bagus, baik dan benar selayaknya dipertahankan dan ditingkatkan. Sebaliknya yang buruk, tidak benar apalagi berupa kemungkaran dan durhaka semestinya ditaubati, dibuang serta ditutup dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan menjamin lebih dekatnya kepada keridloan serta rahmat Allah.
Bermanfaat dalam arti kemanfaatan secara horizontal, baik untuk kebaikan diri pribadi dan keluarga, ketentraman bermasyarakat maupun kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara vertical, sebagai manusia beragama, selain bermanfaat juga dikehendaki agar kegiatan itu memiliki nilai dihadapan Sang Khalik.
Menilik pernyataan dan anjuran Allah di atas, insya Allah, sebenarnya justru orang mukmin yang berhak menguasai dunia. Tidak mungkin berada dalam genggaman orang lain. Orang mukmin adalah orang aktiv, kreatif dan dinamis. Orang mukmin tidak mukmin merasa rugi, merugikan atau dirugikan terutama oleh putaran waktu. Orang mukmin akan senantiasa memanfaatkan langkah-langkah detik senapas dengan lengkah-langkah kreatifnya. Orang mukmin akan senantiasa aktiv dan inopatif melangkah mengiringi langkah-langkah detik. Gambaran keseharian orang mukmin, adalah gambaran keseharian sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam surat Insyirah : bila engkau telah selesai menunaikan sebuah tugas dan aktivitas, hendaklah engkau bengkit kembali dan sandarkanlah harapanmu pada Tuhanmu. Harapan itu adalah keinginan, tapi itu juga adalah rahasia Allah, karena itu tempat sandarannya pun adalah Allah semata. Sehingga karenanya orang mukmin tidak pernah rugi. (Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Gema Mujahidin - Bandung)

Selebritis dan Abah Uca : Dikdik Dahlan L.

Berita selebritis nampaknya tak pernah habis seiring bermunculannya segudang selebritis lainnya yang datang kemudian.
Menonton tayangan tentang aktivitas berikut obrolan dengan wajah-wajah cantik dan tampan sepertinya tak kunjung membosankan. Hampir seluruh stasiun televisi memiliki program serupa. Alhasil, hampir setiap hari para pemirsa disuguhi oleh berita-berita seputar mereka. Lihatlah Betis (Berita Selebritis), Cek & Ricek, Kabar-kabari, Ngobras (Ngobrol Bareng Indra Safera), Kiss (Kisah Seputar Selebritis), Go Show, dan sejumlah nama program serupa lainnya.
Seorang putri remaja di sebuah desa yang belum terjamah angkutan pedesaan dengan lugas dan penuh percaya diri memaparkan dari ujung rambut sampai ujung mata kaki tentang Ayu Azhari, tentang Iis Dahlia, Desy Ratnasari dan segudang selebritis lainnya. Tapi jangan aneh, tiba-tiba si putri diam seribu bahasa ketika ditanya tentang perjuangan Imam Bonjol, Muh.Hatta apalagi tentang riwayat Rasulullah dan perjuangan Khulafaur Rasyidin serta shahabat Rasul lainnya.
Berita selebritis telah menjadi kebutuhan harian sebagian masyarakat kita. Bagi sebagian pemirsa, ucapan, pakaian, mode rambut, sampai bagaimana cara batuk dan bersinnya seorang selebritis bisa menjadi sumber rujukan aktivitas dan perilaku keseharian mereka. Bagi kelompok masyarakat lain, agaknya tayangan selebritis juga menjadi hiburan sekaligus obat pelipur lara di tengah kebingungan dan krisis multi dimensional yang semakin menghimpit.
Adalah Abah Uca yang selama ini justru merasa sakit hati dengan tayangan-tayangan tentang selebritis ini. Mulutnya mengacau hampir ke semua tetangga yang dijumpainya : “Kapan sih kehidupan ini berpihak kepada rakyat kecil ? Kenapa sih gambaran rakyat kecil seperti kita ini seakan-akan tabu untuk diperlihatkan ? Apa memang semua orang telah menjadi penjilat, sudah tebal muka, dan tidak mau jujur dengan apa yang dimiliki ? Melalui sinetron-sinetron, kita dipaksa menikmati gambaran tentang kehidupan sebagian kecil saja masyarakat kita yang memiliki rumah bagai istana dengan kendaraan mengkilat berjejer. Kita juga sering dipaksa membersihkan halaman dan selokan, bergotong royong menambal jalan desa yang bolong-bolong manakala pejabat mau lewat di depan rumah. Diskusi atau seminar sepertinya tak dinilai bermutu kalau tidak diselenggarakn di hotel-hotel berbintang. Bangsa kita sepertinya tak pernah memiliki rakyatnya yang melarat karena yang ditayangkan adalah cukup sebatas selebritis yang sangat biasa pulang pergi ke luar negeri, keluar-masuk salon dan mall untuk sekedar ganti baju dan lipstik. Bukan menayangkan kami, si Abah Uca yang pernah menjual kompan dan jerigen minyak tanah untuk sekedar membeli ikan asin atau kehidupan para nelayan, petani, buruh, sopir bajaj dan banyak rakyat melarat lainnya.
Rakyat melarat seperti kita hanya dibutuhkan untuk sekedar “atas nama”, setelah itu “dikipas-kipas”, tapi tak pernah diberi “angin”. Mungkin termasuk Pak Bendot (Alm). Untuk siapa sebenarnya ia berkata ?”. (Tulisan ini pernah dipublikasikan di Buletin Gema Mujahidin – Bandung)

Kolor Ijo : Dikdik Dahlan L.

“… ia menyebutkan didatangi makhluk bertelingan panjang, bermulut monyong, berperut buncit, dan badannya cebol. Sekujur badanya dipenuhi bulu. Dan – mungkin ini yang menentukan – Cuma bercelana kolor hijau.” (Kompas, Rabu 28 Januari 2004).
Korban pun sempat memperlihatkan luka ditubuhnya yang merupakan bekas cakaran sang “kolor ijo”, Kaus yang dipakainya sobek – sobek sedangkan tali kutangnya putus. Tidak hanya itu, isu “kolor ijo” pun berlanjut dengan perampokan dan pemerkosaan terhadap korban. Tak ayal, masyarakat semakin heboh. Sebagian warga sengaja memasang isim – yang berupa secarik kertas bertuliskan huruf arab dengan motif sarang laba – laba – atau menggantung bambu kuning, daun kelor dan sesihung bawang putih pas di pintu masuk rumah karena dipercaya benda – benda itu dapat menangkal masuknya jin, syaithan, tuyul dan genderewo masuk rumah.
Tidak hanya di Bekasi hal itu terjadi, di banyak tempat pun dapat dijumpai. Isu “kolor ijo” menjadi buah bibir para ibu di mulut gang sambil memilih belanjaan dapur yang terjaja di atas gerobak roda tukang sayur. Sang “kolor ijo” sendiri sampai detik ini belum pernah menampakan jati dirinya selain kepada tiga pelapor yang terdiri dari 3 (tiga) orang ibu berasal dari Bekasi itu.
Di Majelengka, kemarin juga beredar isu adanya 3 (tiga) buah tuyul yang mencuri uang jutaan. Kabarnya, sang tuyul sudah dapat dijinakkan bahkan uang yang dicurinya sempat dikembalikan.
Percaya atau enggak percaya, itulah isu yang sempat beredar di tengah sebagian atau sebuah komunitas masyarakat. Namun yang pasti, masyarakat itu adalah masyarakat yang hidup di tengah suatu bangsa bernama Indonesia. Sepertinya bangsa yang penduduknya mayoritas muslim ini masih banyak terpengaruhi oleh hal – hal yang berbau mistis. Ingatlah ketika yang terhormat Bapak Menteri Agama Republik Indonesia berusaha menggali situs Batu Tulis Bogor, dan 7 (tujuh) orang peziarah yang dipimpin seorang ibu rumah tangga menggali tanah di sekitar pusaran Ratu Sang Prabu di obyek wisata istana presiden Bogor. Dua kegiatan terakhir ini bermula dari wangsit. Lalu apa sebenarnya wangsit itu ? Sebuah ungkapan yang biasa dijadikan modal larisnya praktek – praktek paranormal dan dukun. Padahal, menurut Permadi dan Ki Gendeng Pamungkas yang dikenal para normal itu, orang yang suka minta wejangan kepada dukun dan paranormal adalah orang – orang yang sudah luntur dan hilang kepercayaan dirinya. Kalau kepercayaan diri sudah hilang, apa masih tersisa keinginan untuk berbuat ? Jadi, isu “Kolor ijo”, tuyul atau bahkan merebaknya tayangan – tayangan berbau mistis di televisi kita adalah gambaran sesungguhnya tentang masyarakat kita. Wallahu’alam. (Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Buletn Gema Mujahidin – Bandung)

Bunuh Diri : Dikdik Dahlan L.

Masih ingat Heryanto ? Siswa kelas VI Sekolah Dasar Muara Sanding IV Garut itu mencoba mengakhir hidupnya dengan cara gantung diri karena malu tidak mampu membayar biaya ekstrakurikuler yang hanya 2.500 perak itu. Nyawa Heryanto bisa diselamatkan, tapi bukan tidak mungkin Heryanto – heryanto lain bisa bermunculan. Terakhir percobaan bunuh diri di kalangan anak belia terjadi pada pertengahan bulan Februari kemarin yang dilakukan oleh Nazar Ali Julian ( 13 tahun) penduduk Desa Ciwalen Kec. Sukaresmi – Cianjur. Republika menemukan selama 2004 terjadi tiga kasus bunuh diri anak. Lalu, selama 2003, sedikitnya terjadi empat kasus serupa.
Sebuah stasiun televisi swasta beberapa hari yang lalu menayangkan berita dua mayat yang bergelantung di dahan sebuah pohon. Warga tidak hanya menyaksikan leher yang tergantung dengan tali, tidak jauh dari lokasi mayat itu ditemukan juga botol minuman keras. Diduga sebelum mereka mengakhiri hidupnya mereka menenggak minuman itu terlebih dahulu. Namun yang pasti, sampai detik ini belum terungkap apa motif yang melatar-belakangi bunuh diri berjama’ah itu.
Fenomena bunuh diri, belakangan seperti telah menjadi pilihan untuk lari dari persoalan, ketimbang harus berfikir, bertindak dan mencari solusi untuk memecahkan persoalan – persoalan yang dihadapinya. Tanpa bermaksud menyalahkan kemajuan teknologi, bukan tidak mungkin tayangan – tayangan tentang perilaku kekerasan di televisi juga banyak berpengaruh dan mendorong seseorang untuk mengakhiri hidupnya secara tragis.
Bunuh diri adalah cara meangkhiri hidup. Artinya, si pelaku sudah tidak memiliki kesanggupan, kesiapan, dan kenyamanan untuk hidup dan melanjutkan kehidupannya sampai ajal yang telah ditentukan Tuhan menjemput. Lalu sebenarnya apa yang menjadi factor hilangnya kesangguipan, kesiapan dan kenyamanan hidup itu ? Jawabnya, banyak factor.
Islam sendiri sangat menghargai kehidupan. Salah satu bukti, Islam melalui lisan para Nabi dan para pewarisnya yaitu ulama, sampai detik ini tetap mengharamkan percobaan pembunuhan sekalipun kepada seonggok jabang bayi yang baru terjadi pembuahan (Abortus Provocatus kriminalis). Karena itu pula, kehidupan seorang mukmin yang memiliki kebersihan tauhid selalu menyertakan sikaf khauf dan raja’. Di satu pihak ia akan selalu takut kepada Allah sehingga karenya ia selalu rendah hati dan tidak takabur, sementara di lain pihak hidupnya pun selalu optimis, karena ia yakin rahman dan rahim Allah akan selalu menyertainya. Allah tidak akan memberikan beban di luar kemampuan. Seberat apapun persoalan yang dihadapi, tentu adalah hasil pertimbangan Allah bahwa : persoalan itu mampu dipecahkan dan pasti ada jalan keluarnya. Hiduplah secara mulia atau mati dalam keadaan syahid, bukan sia – sia. (Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Buletn Gema Mujahidin – Bandung)