Abah Uca

Minggu, 18 April 2010

Bab III : Dikdik Dahlan L.

PROSES MASUKNYA MUHAMMADIYAH KE JAWA BARAT

1. Kehidupan Beragama di Jawa Barat
Agak kesulitan untuk menentukan apa sebenarnya agama yang dianut oleh orang Sunda sebelum masuknya Islam ke tatar Sunda, baik ketika di bawah kekuasaan kerajaan Sunda maupun Pajajaran, sekalipun banyak literatur yang menyatakan bahwa masyarakat Sunda sebelum kedatangan Islam memeluk agama Hindu. Dalam rangka menjawab keraguan di atas, Ruyatna Jaya berupaya menelusuri masalah ini.
“Agama Hindu bertopang pada dua jalan (marga) yaitu : jalan bakti (bhaktimarga) dan jalan pengetahuan (jnanamarga). Gelora bakti yang biasanya diwujudkan dalam berbagai bentuk upacara rupa-rupanya mulai memudar bersamaan dengan terpecahnya Tarumanegara menjadi Sunda dan Galuh. Dari patung – patung hasil jaman Salakanagara dapat diduga bahwa agama resmi kerajaan waktu itu ialah agama Siwa, termasuk di dalamnya mazhab Ganapatya (pemujaan Ganesa). Dari prasasti Purnawarman dapat diduga bahwa agama resmi kerajaan jaman Tarumanagara adalah agama Wisnu, termasuk di dalamya mazhab Saura (pemujaan Surya). Prasasti – prasasti Sunda lainnya, kecuali prasasti Cibadak yang belum tentu mencerminkan agama resmi kerajaan, tidak menampilkan ciri agama tertentu.
Sebahagian dari situasi keagamaan orang Pajajaran dapat diungkap dalam kropak 630 yang disebut “Sanghiyang Siksakandang Karesian”. Di sana tampak adanya jejak agama Siwa dari mazhab Siwasidhanta. Lembar III naskah tersebut menampilkan kalimat pengakuan yang berbunyi, “Hongkaro namo Sewaya, baktining huluan di Sanghiyang Panca Tatagata” (Sesungguhnya puji dan sembahku untuk Siwa, baktiku kepada Sanghiyang Panca Tatagata). Kemudian dijelaskan, “Panca ngaran ing lima, tata ma ngaran ing sabda, gata ma ngaran ing raga” (panca berarti lima, tata berarti ucapan, gata berarti wujud). Lima wujud ucapan berarti lima huruf yang disebut panca aksara yaitu : NA, MO, SI, WA, YA.
Kelima aksara itu masing –masing dianggap perwujudan Siwa sebagai : Iswara (di timur), Brahma (di selatan), Mahadewa (di barat), Wisnu (di utara) dan Siwa sendiri (di tengah) …Disamping adanya agama Siwa yang jelas tampak jejaknya dalam kropak 630 juga unsur agama Buda tampak sebagai sendi untuk ajaran moral dalam bentuk dasamarga (sepuluh jalan) yang dijabarkan dari dasasila (sepuluh pokok ajaran) melalui penggunaan dasa indriya (sepuluh indria) secara benar untuk mencapai tingkat kesempurnaan dasa kerta (sepuluh kesejahteraan hidup)…Walaupun demikian kita tidak dapat menyebutkan bahwa masyarakat Pajajaran itu penganut agama Siwa-buda sebab disamping kedua hal tersebut, kropak 630 menampilkan pula unsur agama “asli” yang jauh lebih mendasar dibandingkan dengan kedua gejala Hinduisme dan Budisme tersebut. Unsur “asli” ini menampilkan posisi dewa-dewa dalam sistem religi masyarakat Pajajaran waktu itu… Bila agama orang Pajajaran sudah bersendikan Hiyang atau Batara Seda Niskala dan menempatkan dewa-dewa terpenting dalam agama Hindu dibawahnya; jelaslah bahwa dalam abad ke – 16 agama Hindu telah kehilangan vitalitasnya… Dari uraian diatas sudah jelas bahwa tidak tepat kita namakan Pajajaran sebagai “Kerajaan Hindu” atau jaman Pajajaran kita sebut “Jaman Hindu”. Penamaan itu hanya akan membangkitkan salah tafsir dan salah paham, bahkan orang akan bertanya. Di manakah candi – candinya ? Di manakah patung – patung dewanya ? (Jaya, 2004 : 3 – 10)
Hanya saja sejarah mencatat tahun 1579 adalah tahun kejatuhan Pajajaran, dan setelah itu Islam mulai menjadi pribumi di tanah Jawa Barat. Agama Islam di Jawa Barat hidup subur, berkembang dengan pesatnya. Hal ini terbukti sampai sekarang dengan bukti banyaknya Alim ulama, tempat - tempat beribadat (mesjid), madrasah, tempat – tempat pengajian, pesantren dan lain – lain. Pertumbuhan agama Islam terus meningkat. “Kemudian, setelah V.O.C.masuk dan pemerintahan Belanda berdiri di Indonesia, maka masuklah pelajaran Agama Kristen/Roma Katholik dengan Missi dan zendingnya” (Koordinasi Pembangunan Daerah tingkat I Jawa Barat. TT : 175) Betapa tidak, untuk menamai armada – armadanya saja mereka lekatkan dengan istilah agama Kristen seperti uraian Adrianto Soekarnen dalam Majalah Forum rubrik Fokus No 50 edisi 31 Maret 2002 yang menyatakan bahwa “Armada Natal berangkat dari Belanda pada bulan Desember – Januari. Sementara itu, Armada Paskah berangkat pada bulan April – Mei. Di awal perjalanan, Armada Natal harus sudah menghadapi amukan Laut Utara di musim dingin.Tapi setelah melewati garis Khatulistiwa, rombongan kapal itu akan mendapatkan cuaca yang terang dan dengan cepat bisa mencapai Hindia Belanda.
Sebagai suatu contoh, untuk membuktikan dugaan bahwa pemerintah kolinial Belanda juga turut andil dalam penyebaran agama Kristen di Nusantara, “Penaburan benih injil di Kota Garut diawali dengan dibukanya Pos Kebaktian di Ciwalen pada bulan Oktober 1899 oleh B.M. Alkema (pendeta Belanda) atas permintaan Thung Siong Hong, seorang Cina yang pada saat itu sudah menetap di Garut. Ia datang ke Indonesia tahun 1890 atas pengutusan satu perkumpulan Pekabar Injil di Negeri Belanda yang bernama Nederlandsche Zending Vereeniging (NZV). Atas usahanya, di Garut, tanggal 4 Juni 1900 B.M. Alkema telah dapat melayani pembaptisan kepada tiga orang, yakni Enok (Maria), Miumah, dan Oesman. Pada tahun 1925 Gereja di Ciwalen dipindahkan ke Talun dengan nama Gereja Kristen (Protestan) Pasundan (GKP), sedangkan tanah dan bangunan gereja di Ciwalen dijual. (Sofianto, 2001 : 60 – 61)
Selain penduduk asli yang kini kebanyakan memeluk agama Islam, kemudian penjajah Belanda membawa missi dan zendingnya, di Jawa Barat atau umumnya di Nusantara terdapat beberapa etnik yang berbaur dengan penduduk, diantaranya etnik Arab, Cina, India dan Pakistan serta yang lainnya. Diantara beberapa etnik itu, Cina atau Tionghoa, atau etnik Tiongkok barangkali perlu dikupas dalam tulisan ini karena beberapa kekhususannya.
Kunto Sofianto menjelaskan bahwa “kedatangan imigran – imigran Cina di Jawa Barat pada akhir abad ke –19 karena tertarik oleh cepatnya perkembangan Kota Batavia dan dibukanya daerah Priangan (Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis) untuk para pedagang Cina. Pemukiman kaum etnis Cina di daerah Priangan mendapat izin dari pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1872. Para imigran Cina tersebut terdiri dari suku bangsa Hokkien, Teo Chiu, Hakka (Khek), dan Kanton yang berasal dari propinsi Fukkien dan Kwangtung (Sofianto, 2001 : 18). Mereka umumnya menganut kepercayaan tradisional Cina dan setiap tanggal 1 dan tanggal 15 menurut kalender Cina, mereka datang ke kelenteng. Hal lain yang masih berhubungan dengan kepercayaan mereka adalah perayaan tahun baru imlek yang dirayakan setaiap tanggal 1 bulan pertama kalender Cina.
Pasang surut kehidupan etnik Cina di Indonesia juga dialami oleh mereka yang tinggal di wilayah Jawa Barat. Puncaknya adalah intruksi Mendagri No 455.2-360/1968 yang mengatur tentang kelenteng dan Surat Edaran No 02/1988 yang melarang penerbitan dan percetakan tulisan beraksara Cina. Akibat beberapa aturan itu, kebanyakan diantara mereka mengganti nama dari nama berbahasa etniknya sendiri diganti dengan nama Sunda, Indonesia, Barat atau bahkan campuran, sebagai contoh misalnya Willian Soerjadjaja. William biasa dipakai oleh orang Eropa sementara nama belakangnya jelas –jelas nama orang Sunda.
Tidak hanya berganti nama, mereka pun berlomba –lomba berganti agama dan kepercayaan. Diantara mereka ada yang masuk agama Budha, namun menurut beberapa penelitian lebih banyak diantara mereka yang memilih Kristen sebagai agama pilihannya. Untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangan penduduk Jawa Barat berdasarkan agama dan kepercayaan yang dipeluknya, berikut ini disampaikan Jumlah penduduk berdasarkan agama dan kepercayaannya dalam tiga periode :

No Agama
/ Kepercayaan Jumlah
Tahun 1964 Jumlah
Tahun 2000 Jumlah
Tahun 2003 **)
1
2
3
4
5
6 Islam
Kristen/Protestan
Katholik
Budha
Hindu
Lain - Lain 19.344.622
65.000
24.272
43.128
2.500
*) 207.789 37.606.313
340.260
235.417
98.782
58.390
34.864.322
656.534
282969
341.128
184987
T o t a l 19.677.311 38.339.162 36.329.940

*) Diantaranya Kong Hu Chu yang mencapai jumlah 150.000 orang
**) Setelah Banten berdiri sebagai Propinsi
***) Sumber dari Buku Saku Statistik Jawa Barat dan Sejarah Perkembangan & Pembangunan Daerah Djawa Barat Tahun 1945 – 1965

Berkaitan dengan kata “Sunda” sebagai istilah yang menunjukan etnik masyarakat yang menempati sebagian besar wilayah Jawa Barat, pernah heboh dengan munculnya “Agama Jawa – Sunda (ADS)” namun kemudian berkembang menjadi agama Katholik. Aliran kebatinan ini muncul pada pertengahan abad ke 19 di Cigugur – Kuningan yang didirikan oleh Madrais Alibasa Kusuma Wijayaningrat. Karena itu, di luar pemeluknya agama ini lebih dikenal dengan sebutan agama Madrais atau Madraisme.
Pangeran Madrais sendiri adalah putra Pangeran Alibasa (Sultan Gebang) yang dilahirkan pada tahun 1833. Ia pernah mesantren sejak usia 10 tahun, namun pengembaraan pemikirannya menyebabkan ia pernah mengurangi tidur dan mati-raga (bertapa). Ia kemudian menetap di Cigugur, menyiarkan ajaran – ajarannya secara terus menerus dan menurut para pengikutnya ia adalah seorang yang dianut baik oleh Cahyaning Tunggal atau Nurwahid maupun oleh mereka sendiri (para penganutnya) “Nu kaanutan ku Cahyaning Tunggal atawa Nurwahid sarta anu dianut ku abdi-abdi sadaya”.
Madrais dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda dari tahun 1901 sampai 1908 ke Merauke. Menurut tanggapan orang – orang awam, agama Jawa - Sunda semata – mata mengingatkan orang kepada kepercayan kepada api dan karena itu agama semacam itu mengingatkan orang kepada agama Zaratustra dari Persia Kuno. Menanggapi hal ini PD. Muhammadiyah Kuningan menyatakan patut disayangkan bahwa perselisihan faham antara ummat Islam dengan pengikut Madrais yang kemudian Madrais dinyatakan kalah oleh pengadilan ternyata ummat Islam mengekspresikan kegembiraan ini dengan berlebihan, sehingga para pengikut Agama-Djawa-Sunda (ADS) dimaksud merasa terlukai dan sulit berhubungan dengan orang Islam, yang akhirnya dirangkul oleh ummat Kristiani.

2. Proses Masuknya Islam ke Jawa Barat
Salah seorang putera Sang Bunisora yang bertahta di kerajaan Sunda pada tahun 1357 – 1371 sebagai pengganti sementara kakaknya (Prabu Wangi) yang gugur di Palagan Bubat adalah Bratalegawa. Pusat kerajaan Sunda pada saat itu telah berpindah ke Kawali, tepatnya sejak tahun 1333 pada masa kekuasaan Prabu Ajiguna Linggawisesa.
Berbeda dengan saudaranya yang lain Sang Bratalegawa memilih hidupnya di dunia perdagangan. Ia terbiasa berlayar ke Sumatera, Cina, Campa, India, Sri Langka dan Persia untuk mencari barang perdagangan seperti emas dan perak. Dari pergaulannya yang luas inilah Sang Bratalegawa menemukan jodoh seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Sang Bratalegawa juga masuk Islam dan menunaikan Ibadah Haji kemudian mendapat julukan Haji Baharudin al Jawi. Ketika kembali ke kampung halamannya (Galuh) ia lebih dikenal dengan nama Haji Purwa Galuh atau Haji Purwa (Haji Pertama). Dari keterangan ini Sang Bratalegawa adalah orang muslim pertama sekaligus penyebar agama Islam pertama di Kerajaan Sunda.
Penyebaran Islam di Jawa Barat selanjutnya mengalami kesempatan yang lebih luas terutama di masa Kerajaan Sunda Pajajaran dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja, Bahkan beliau sendiri menikah dengan Subanglarang puteri Ki Gedeng Tapa penguasa Kerajaan Singapura Muara Jati Cirebon. Subanglarang juga adalah salah seorang cucu Sang Mahaprabu Niskala Wastukancana yang menjadi santri di Pondok Quro Karawang, pesantren pertama di Jawa Barat yang didirikan oleh Syeh Hasanudin.
Syeh Hasanudin adalah seorang ulama berasal dari Campa yang sengaja ikut dalam rombongan armada angkatan laut Cina yang melakukan perjalanan keliling pada tahun 1416 dibawah pimpinan Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Tay Kam. Dalam perjalanannya menuju Majapahit, armada ini singgah di Pura Karawang, dan pada saat itulah Syeh Hasanudin yang berniat menyebarkan Islam di pulau Jawa turun memisahkan diri sedangkan armada lainya meneruskan perjalanan ke Majapahit.
Dari perkawinannya dengan Subanglarang, Sri Baduga Maharaja memperoleh tiga orang anak yang kesemuanya muslim, yaitu Walangsungsang, Rara Santang, dan Rajasangara. Pangeran Walangsungsang alias Cakrabuana dan Rara Santang setelah ibunya wafat menetap bersama kakeknya di Cirebon. Di Cirebon, Walangsungsang atau Ki Samadullah pernah membuka perkampungan baru yang diberinya nama Cirebon Larang atau Cirebon Pesisir. Dua tahun setelah menetap disana bersama penduduknya mendirikan sebuah tajug di tepi pantai “dan diberi nama Jalagrahan (rumah air), mesjid tertua yang pertama di Cirebon (bahkan mungkin di Jawa Barat). Setelah menunaikan ibadah haji Walangsungsang yang mendapat nama baru yaitu Haji Abdullah Iman, sekembalinya ke Cirebon dengan modal warisan dari kakeknya ia mendirikan Keraton Pakungwati disamping membentuk tentara kerajaan. Inilah kerajaan Islam pertama di Pajajaran. Dengan demikian, di Jawa Barat mesjid tertuanya adalah Tajug Jalagrahan, Kerajaan Islam pertama adalah Pakungwati. Kedua-duanya didirikan oleh Pangeran Walangsungsang, alias Ki Samadullah, alias Cakrabuana atau juga yang disebut dengan Haji Abdullah Iman. Sedangkan Pondok Pesantren yang pertama adalah Pondok Quro Karawang yang didirikan oleh Syeh Hasanudin.
Cirebon melepaskan diri dari Kerajaan Pajajaran dan merdeka sebagai kerajaan Islam terjadi “pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Masehi (antara Maret – April 1428), Syarif Hidayat menjadi Raja Cirebon dengan gelar Susuhunan Jati” (Iskandar, 1997 : 261). Susuhunan Jati atau Syarif Hidayatullah adalah cucu Sri Baduga Maharaja dari putrinya Rara Santang, ia juga sekaligus menantu Walangsungsang (Kakak Rara Santang) yang menikah dengan Nyai Pakungwati. Ketika penobatannya, Raden Fatah hadir memberikan dukungan, bahkan sebagian pasukkanya ditinggalkan di Cirebon untuk berjaga – jaga, melindungi Susuhunan Jati. Duet pasukan Cirebon Demak ini pada saatnya berhasil melumpuhkan Pertahanan Galuh di Talaga yang membuka ekspansi Kerajaan Islam di wilayah timur Pajajaran disamping juga merebut Banten Pesisir cikal bakal pendirian Kerajaan Islam Surosowan Banten yang di kemudian hari, raja keduanya, yiatu Panembahan Yusuf berhasil melumpuhkan ibukota Pajajaran. Sejak itulah kerajaan Sunda - Pajajaran sirna dari bumi dan kemudian yang nampak adalah kerajaan – kerajaan Islam yang berpangkal dari Cirebon dan Banten, menular ke pedalaman Jawa Barat.

3. Pemahaman & Pengamalan Keagamaan (Islam) di Jawa Barat.
Pada umumnya proses Islamisasi di Nusantara dilakukan melalui perdagangan dan perkawinan. Sebagai salah satu contoh adalah Cirebon yang diyakini sebagai daerah pertama yang masyarakatnya memeluk agama Islam di Jawa Barat. Di awal perkembangan Islam, Cirebon sudah banyak dihuni oleh para saudagar dari berbagai negeri seperti Parsi, Arab, Pasai, India, Malaka, Tumasik dan Cina. “Kedatangan mereka di Cirebon semata-mata untuk berniaga dan memenuhi kebutuhan pelayaran lainnya. Sebagian besar dari mereka terdiri atas saudagar-saudagar yang telah memeluk agama Islam. Kedatangan mereka di Cirebon sudah tentu memungkinkan penduduk setempat berkenalan dengan Islam”. (Depdikbud Proyek Inventaris, TT : 94)
Lain halnya dengan yang terjadi di Sumedang. Sebagaimana juga diungkapkan oleh Drs. H. Kusnadi mantan Ketua PDM Sumedang, di sini Islam masuk melalui cara perkawinan yaitu antara Pangeran Santri (Penguasa daerah Sumedang) dengan puteri Cirebon. Peristiwa pengangkatan Pangeran Santri sebagai bupati Sumedang merupakan suatu peristiwa penting bagi perkembangan Islam di daerah itu. Karena dengan cara itu masuk an berkembangnya agama Islam menjadi lebih lancar. Dalam hal – hal tertentu media seni baik seni tari, sastra dan lain – lain turut juga mempengaruhi perkembangan Islam di Jawa Barat.
Kecuali itu saluran tasawuf dan pendidikan khususnya di pondok – pondok pesantren juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam penyebaran Islam khususnya di Jawa Barat. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga yang memeiliki peranan penting dalam penyebaran dan penguatan ajaran Islam di tengah - tengah masyarakat. Para santri yang telah menyelesaikan studinya di pesantren, mereka kembali ke kampung halamannya, dan di tempat asalnya itulah mereka menjadi guru agama, muballigh sekaligus tokoh keagamaan. Semakin banyak santri yang berhasil menjadi tokoh di tengah masyarakat maka semakin harum dan dikenal keberadaan kyai pemimpin pesantren dimaksud. Tidaklah mengherankan apabila banyak kyai – kyai yag memimpin pesatren kemudian diangkat menjadi penasihat raja/penguasa wilayah dalam bidang keagamaan. Bahkan lebih dari itu, dalam kondisi tertentu bisa sangat mempengaruhi peta politik kerajaan atau kebijakan daerah yang dipimpinnya.
Proses Islamisasi seperti itu nampaknya cukup banyak berpengaruh terhadap pemahaman dan pengamalan Islam yang berkembang di tengah masyarakat. Islam yang dikembangkan di tatar Pasundan menampilkan ciri pokok praktis, akrab dengan alam dan lebih menekankan kepada isi (niat). Islam yang dikembangkan di Jawa Barat khususnya, nampaknya dilakukan dengan seakrab mungkin sehingga menyentuh emosi dan perasaan masyarakat. Penyebutan “Haji Purwa” yang berarti haji yang pertama dialamatkan kepad Sang Bratalegawa yang setelah haji mendapat julukan Haji Baharudin al Jawi. Namun sekembalinya ke tatar Sunda ia mengawinkan kata “haji” dengan kata “purwa” yang merupakan bahasa /ungkapan yang sangat dikenal oleh masyarakat Sunda. Ketika Syarif Hidayat berkuasa dan membangun mesjid, maka mesjid itu dinamai dengan Tajug Sang Ciptarasa, sebuah nama yang tentu sangat menyentuh hati penduduk karena ungkapannya yang sangat akrab dengan telinga meraka. Karena itulah beberapa istilah yang sebenarnya tidak dikenal dalam kamus ajaran Islam tapi sampai saat ini seakan – akan memang lahir dari Islam, seperti Surga dan naraka sebagai terjemahan dari al jannah dan an Naar.
Mungkin karena saking akomodatifnya proses islamisasi di tatar sunda atau umumnya di Nusantara sehingga tidak disadari banyak perilaku atau kegiatan – kegiatan baik yang dilakukan secara individual maupun kelompok dalam bentuk upacara yang sepertinya dianggap “ibadah” tapi hakikatnya justru bertolak belakang dengan inti ajaran Islam. Ketika seseorang akan meninggalkan kampung berkunjung ke tempat asing atau tanpa sengaja melewati sebuah tempat yang asing maka secara spontan keluar ucapan dari mulutnya berupa mantra atau jampe yang pada intinya untuk meminta ijin, uluk salam kepada penghuninya (nu ngageugeuh). Bagi mereka , tempat tempat atau benda – benda yang memiliki kekhususan baik karena lokasi atau bentuknya yang tidak lazim, diyakini merupakan tempat berdiamnya roh – roh halus arwah – arwah manusia yang semasa hidupnya memiliki jasa dan banyak dikenang, sehingga muncul keinginan untuk tetap mengabadikan penghormatan kepada mereka.
Secara umum ummat Islam di Jawa Barat merupakan penganut/ummat yang sangat patuh dalam menjalankan segala kewajiban agamanya, terutama terhadap pelaksanaan empat bentuk ibadah ritual yaitu shalat, puasa, membayar zakat (terutama fitrah) dan menuniakn ibadah haji di tanah suci. Namun demikian disamping pelaksanaan pokok – pokok ajaran Islam itu, masih banyak yang masih mencampurkan antara kepercayaan tauhid khususnya dengan kepercayaan lain yang sudah berkembang sebelumnya. Mereka masih percaya bahwa hidup dan kehidupan manusia selalu ada dalam pengaruh “alam ghaib”. Mereka terbiasa mengunjungi makam – makam yang dianggap keramat seperti makam – makam di Cirebon, Banten, Cipatujah – Tasikmalaya, Godog – Garut (Makam Prabu Kiansantang) dan lain – lain.
Dalam kehidupan keagamaan ummat Islam di Jawa Barat upacara selamatan merupakan wujud dari rasa syukur atas anugerah kelebihan nikmat yang diterima, seperti selamatan panen yang berhasil, selamatan membangun dan menempati rumah baru dan lain sebagainya. Kegiatan selamatan ini biasanya dilakukan pada hari kamis (malam Jum’at) selepas shalat isya. Biasanya selamatan ini terbatas bagi para tetangga terdekat dan umumnya hanya dihadiri oleh kaum pria, dipimpin oleh seorang ustadz yang biasanya bertugas sebagai wakil penyelenggara selamatan dalam menyampaikan maksud selamatannya sekaligus juga bertugas untuk memimpin do’a di akhir acara.
Upacara lain yang biasanya dilakukan adalah Marhaba dan Tahlil. Marhaba adalah selamatan atas kelahiran seorang bayi. Dalam upacara itu selain dibacakan barjanji, doa keselamatan kepada si anak, juga sekaligus sebagai ajang pemotongan rambut. Karena itu upacara ini biasanya dilakukan pada hari ke tujuh atau ke empat puluh setelah bayi lahir. Masyarakat justru lebih mengenal istilah marhaba ketimbang aqiqah. Adapun tahlil adalah upacara duka yang diselenggarakan oleh ahli waris/keluarga orang yang meninggal dunia. Biasanya, tahlil dilakukan pada hari pertama, hari ketiga, ke tujuh, ke empat puluh (matang puluh), ke seratus (natus) dan terakhir di hari ke sribu setelah si mayit meninggal dunia. Pada setiap upacara selamatan maupun tahlilan, mereka yang datang, ketika pulang biasanya mendapat bingkisan berupa makanan siap santap berupa nasi dan lauk pauknya yang lebih dikenal dengan sebutan “berekat”.
Berkenaan dengan upacara adat yang dianggap sebagai pengamalan agama dan dihubungkan dengan pemberian dikenal beberapa macam diantaranya pemberian Bubur Asyura, Saparan, Muludan, Mi’rajan, Rewahan, Manakiban dan lain – lain. Bubur yang disajikan biasanya diberi warna yang berbeda, antara tiga, lima sampai tujuh warna. Ketika datang peringatan hari – hari besar Islam seperti peringatan Maulud Nabi, Mi’raj Nabi dan Nuzulul Qur’an, biasanya beberapa tokoh masyarakat atas kesadaran sendiri atau dengan cara gotong royong membuat beberapa nasi tumpeng dengan lauk pauk telor ayam, daging ayam, tempe dan urap. Pada malam hari besar, tumpeng-tumpeng itu dibawa ke mesjid disantap bersama – sama dengan masyarakat sekampung setelah sebelumnya para tetua kampung atau ustadz menguraikan hikmah – hikmah hari besar itu.
Berkenaan dengan peringatan hari – hari besar itu, biasanya bulan – bulan seperti Rabi’ul Awal (Mulud), Dzulhijjah (Bulan Haji), Rajab merupakan bulan-bulan yang dianggap membawa berkah sehingga di bulan – bulan itu merupakan waktu yang tepat untuk menyelenggarakan selamatan baik pernikahan, khitanan dan lain – lain. Sebaliknya, bulan Safar merupakan bulan yang dihindari untuk melakukan selamatan, terutama pernikahan. Bulan safar disebut-sebut sebagai bulan mengawinkan anjing (ngawinkeun anjing), sehingga setiap pernikahan yang dilangsungkan pada bulan Safar dipercaya rumah tangganya tidak akan mulus, banyak pertengkaran dan tidak membawa berkah.
Ketika seseorang akan membangun rumah, biasanya tetua kampung, dukun atau malah yang dikenal ustad dimintai tolong untuk meminta izin kepada “Nu Ngageugeuh”. Dalam upacara itu selain dibacakan mantra – mantra selanjutnya memotong ayam, khususnya ayam cemani (yang keseluruhan tubuhnya berwarna hitam) yang darah sembelihan dari lehernya ditampung untuk kemudian diteteskan di setiap sudut tanah yang akan dibangun.
Kebiasaan lain yang berhubungan dengan kepercayaan ummat Islam adalah dalam menyambut, mengisi dan melepas bulan Ramadhan. Biasanya beberapa hari menjelang Ramadhan mereka membersihkan diri dengan cara mandi junub (kuramas), membersihkan kuburan keluarga, bahkan mereka yang merantau di kota lain sengaja pulang kampung untuk berkumpul dan merayakan sahur pertama dengan keluarga (munggah). Selama bulan Ramadhan semakin banyak melakukan aktivitas di mushala dan mesjid, tadarus al Qur’an sampai khatam (tamat), shalat qiyamu Ramadhan (taraweh). Mengakhiri Ramadhan, gema takbir bersahutan dengan bedug yang ditabuh dari sudut – sudut mesjid. Keesokan harinya setelah menunaikan shalat Id dan bersalaman dengan seluruh keluarga dan tetangga berziarah ke makam keluarga sambil menaburkan bunga (nadran).

4. Proses Masuknya Muhammadiyah ke Jawa Barat
Masuk dan tersebarnya Muhammadiyah di Jawa Barat nampaknya bisa dipastikan berpangkal dari dua arah, yaitu jalur utara dan selatan. Dari jalur utara berpangkal dari Jakarta yang pada waktu itu masih dikenal dengan sebutan Batavia, sementara dari jalur selatan berpangkal dari kota Garut.
Muhammadiyah di kota Garut secara resmi berdiri pada tanggal 30 Nopember 1923 dengan Surat Ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta nomor 18. Tercatat beberapa nama sebagai perintis pendirian Muhammadiyah di kota Garut adalah H. M. Djamhari, Wangsa Eri, Masjamah, dan H.M. Gazali Tusi yang telah mengusahakan pendiriannya sejak awal tahun 1922 berbarengan dengan upaya pendirian Muhammadiyah di Jakarta yang dirintis oleh Kartosudharmo. Menurut Djarnawi Hadikusumo “Dalam tahun 1921 diresmikan berdirinya cabang Srandakan dan Imogiri, keduanya terletak di daerah Yogyakarta. Lalu Blora, Surabaya, dan Kepanjen, Tahun 1922 berdiri cabang Surakarta, Garut, Jakarta, Purwokerto, Pekalongan dan Pekajangan” (H.Djarnawi Hadikusumo, TT, Hal 78).
Meskipun tahun resminya berdiri cabang Muhammadiyah Garut baru tercatat pada tahun 1923, namun dapat dipastikan kalau ajaran dan pemahaman keagamaan sebagaimana paham agama yang dikembangkan oleh K.H.Ahmad Dahlan telah terpatri di sebagian kecil penduduk kota Garut beberapa tahun sebelumnya, hal ini dapat dipahami mengingat beberapa hal seperti :
1. Di Garut telah berdiri sebuah Madrasah ibtidaiyyah bernama Al Hidayah berangka tahun 1919. Istilah ibtidaiyyah adalah “Istilah yang biasa dipakai oleh oleh madrasah – madrasah milik Muhammadiyah saat itu, untuk membedakan madrasah yang dikelola oleh organisasi lain, seperti PSII dengan istilah Madrasah Islamiyyah” (Lukman, 1996 ; 16).
2. Madrasah itu berdiri di atas tanah wakaf dari keluarga Masjamah yang merupakan salah seorang perintis Muhammadiyah dan pada tahun 1923 secara resmi tanah dan bangunannya diserahkan kepada Muhammadiyah.
3. Madrasah itu terletak di kampung Lio sebutan untuk sebuah perkampungan pengrajin batu-bata yang sejak awal perkembangan Muhammadiyah tempat itu dijadikan pusat kegiatan Muhammadiyah di Garut. Kampung Lio juga berdekatan dengan kampung Pasar Baru dan Ciledug yang merupakan kampung - kampung basis bakal anggota Muhammadiyah.
4. Nama “Al Hidayah” pada waktu itu adalah nama sebuah kelompok pengajian di Garut yang sebenarnya adalah nama lain untuk gerakan Muhammadiyah yang pada saat itu pergerakan Muhammadiyah baru terbatas di keresidenan Yogyakarta sesuai dengan izin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda Nomor 81 tahun 1914. Sempitnya izin yang diberikan, tidak mempersempit gerakan Muhammadiyah. Pada saat itu K. H. Ahmad Dahlan menganjurkan agar gerakan Muhammadiyah di luar kota Yogyakarta menggunakan nama lain seprti Nurul Islam di Pekalongan, Sidiq Amanah Tabligh Fathonah di Solo, al Munir di Ujung Pandang dan lain – lain. Izin diperbolehkannya Muhammadiyah bergerak di luar Yogyakarta sendiri baru keluar pada tanggal 2 September 1921.
Perintisan Muhammadiyah di kota Garut banyak dilakukan oleh para pendatang dari luar kota Garut. Salah seorangnya adalah H. Djamhari putra Dasiman yang berasal dari kota Kudus. Dasiman mengasingkan diri ke tanah Pasundan (Garut) untuk menghindari fitnah dari pemerintah Belanda sesudah perang Diponegoro. Menurut Kunto Sofianto mereka datang dan menetap di Garut sekitar awal tahun 1900-an. Bahkan kelompok pengajian al Hidayah yang menjadi cikal bakal berdirinya Muhammadiyah sendiri pada saat itu banyak diikuti oleh para pedagang batik dan kain bodasan di lingkungan pasar baru, pajagalan dan Ciledug yang merupakan domisili para pedagang pendatang itu. Fenomena penyebaran gerakan Muhammadiyah di kota Garut ini nampaknya memiliki kesamaan dengan yang terjadi di daerah – daerah lain. Penyebaran Muhammadiyah sedikit banyak terjadi melalui intraksi para pedagang. Konon, masuknya Muhammadiyah ke Minangkabau juga melalui jalur perdagangan. Bermula dari perkenalan para pedagang Minangkabau yang berada di Pekalongan dengan Kyai Dahlan yang sering melakukan tabligh di daerah itu. Interaksi ini membawa pengaruh yang sangat besar dan akhirnya faham keagamaan yang disampaikan oleh Kyai Dahlan terbawa ke ranah minang.
Demikian juga dengan perintisan Muhammadiyah di Garut. H. Djamhari adalah seorang pedagang batik yang sering mengambil barang dagangannya ke Yogyakarta. Dalam perjalanannya itu ia sangat tertarik dengan madrasah Muhammadiyah di Suronatan yang begitu maju dan banyak memiliki siswa. Teringat dengan madrasah al Hidayah yang dikelolanya di Garut memotivasi untuk mengenal lebih jauh terhadap pergerakan Muhammadiyah. Pada perkembangan selanjutnya, ia berkenalan dengan Tobamin (Ketib Amin) yang tiada lain adalah K. H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah yang dikaguminya. Menurut catatan Acep Muharram yang melakukan wawancara dengan beberapa anggota keluarga H. Djamhari, K. H. Ahmad Dahlan pernah berkunjung ke Garut bersama Kyai Fachrudin untuk memperkenalkan gerakan Muhammadiyah.
Tidaklah mengherankan kalau Muhammadiyah di awal penyebarannya lebih nampak sebagai gerakan kaum kelas menengah dari pada sebagai organisasi keagamaan yang lazimnya didominasi oleh kaum santri. Catatan sejarah Muhammadiyah mencatat bahwa pada tahun 1916, sekitar 47 % anggota Muhammadiyah berasal dari kalangan saudagar/wiraswastawan mengungguli kalangan pegawai/pamongpraja maupun ulama dan profesi lainnya.
Interaksi antara para pedagang ini biasanya kemudian ditindaklanjuti dengan kegigihan para ulama dan mubaligh. Demikian juga yang terjadi di Garut. Selain ditunjang oleh para pedagang yang banyak berkorban dengan harta kekayaannya, pengaruh para ulama dalam menanamkan pemahaman keagamaan pun tidak kalah besar pengaruhnya. Diantara mereka tercatat nama nama K.H.Badjuri, K.H.Kafrawi dan K.H.Gazali Tusi sebagai corong terdepan penyebaran Muhammadiyah di Garut.
Dari kota Garut, Muhammadiyah merangkak menyentuh beberapa kota yang berdekatan. Salah satu kota yang mendapat pengaruh besar penyebaran Muhammadiyah dari Garut adalah Tasikmalaya. Di kota ini Muhammadiyah mulai tercium keharumannya di tahun 1935. Beberapa orang yang tercatat memiliki banyak jasa masuknya Muhammadiyah di Tasikmalaya adalah Hidayat, Moh. Fadjri (Ketua PMC Garut), A. S. Bandy, dan Sutama yang kemudian nama terakhir ini dtetapkan sebagai Ketua PMC pertama di Tasikmalaya. Dari Tasikmalaya, Muhammadiyah kemudian mencium Kota Ciamis, Kuningan, dan Cirebon. Para Mubaligh Cirebon, kemudian mengepakan sayapnya ke arah Indramayu dan Majalengka.
Di Jakarta, sebagaimana perkiraan sementara ini cabang Muhammadiyah berdiri tidak selang lama waktunya dengan pendirian cabang di Garut. Tokoh yng tercatat sebagai perintis Muhammadiyah di tanah Batavia ini adalah Kartosudharmo. Dari Jakarta Muhammadiyah dibawa oleh Asep Mujtaba alumnus perguruan Al Irsyad Jakarta yang juga kenal dekat dengan Yunus Anis.
Perguruan al Irsyad Jakarta didirikan pada tahun 1915. Di perguruan yang didirikan oleh Syek Ahmad Syurkati ini banyak putra – putra pemimpin Muhammadiyah yang mempelajari agama terutama bahasa Arab. Salah seorangnya adalah Yunus Anis. Setelah menyelesaikan studinya, dan mengabdi beberapa waktu di almamaternya itu, sejak tahun 1924 Yunus Anis sudah aktiv sebagai salah seorang pengurus cabang Muhammadiyah Jakarta (Batavia).
Kalau Asep Mujtaba membawa Muhammadiyah ke kampung halamannya karena pengaruh Yunus Anis, maka bisa diperkirakan persahabatan kedua alumnus al Irsyad itu sudah terjalin antara tahun 1924 – 1926, sebab di tahun 1926 itulah Asep Mujtaba merintis Muhammadiyah di Jasinga, kemudian merambat ke daerah terdekatnya Leuwiliang yang berdiri tahun 1928. Selain menyentuh wilayah Bogor, dari Jakarta pemahaman Muhammadiyah merambat juga ke Cianjur dan Sukabumi yang diperkirakan sudah berdiri secara resmi pada tahun 1930.
Angka tahun itu mungkin saja pendirian resminya, namun bisa jadi Muhammadiyah dalam arti pemahaman keagamaannya sudah menyentuh kota – kota itu jauh sebelumnya. Apalagi kalau hal ini dikaitkan dengan salah satu sisi riwayat kehidupan KH. Ahmad Dahlan. Selain beristri Nyai Walidah, Kyai Dahlan juga pernah menikah dengan beberapa orang janda yang salah satunya adalah janda Aisyah asal Cianjur, bahkan dari istrinya yang berdarah Pasundan ini Kyai memperoleh seorang anak perempuan bernama Dandana. Dari perkawinannya ini kita bisa menduga – duga kalau Kyai Dahlan pernah berkunjung atau mungkin berdomisili sekalipun dalam waktu yang sangat singkat di Cianjur.
Kalau saja untuk sementara kita juga duga bahwa Kyai Dahlan pernah berkunjung ke Cianjur sekalipun hanya dalam hitungan hari, maka bisa dipastikan hal itu beliau lakukan jauh sebelum tahun wafatnya yaitu tahun 1923, karena pada saat wafat beliau sudah berumur 55 tahun.

Bab II : Dikdik Dahlan L.

BAB II
SEJARAH PROPINSI JAWA BARAT

1. Selayang Pandang Kerajaan Sunda
Menurut Yoseph Iskandar dalam Bukunya Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa) Kerajaan Sunda adalah nama pengganti untuk kerajaan Tarumanagara. Perubahan nama ini dilakukan oleh Sang Tarusbawa menantu Sang Maharaja Linggawarman, raja kedua belas Kerajaan Tarumanagara yang wafat pada tahun 699 M. Sang Tarusbawa mengantikan mertuanya dengan nama nobat Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manunggalajaya Sunda Sembawa. Nama Sunda sendiri diambilnya dari nama bekas Ibukota Tarumanagara yang juga tempat kelahiranya, yaitu Sundapura yang kemudian berubah menjadi Sunda Sembawa (Tanah kabuyutan).
“Menurut R.W. van Bemelen (1949), Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekitar 7000 km.” (Ekajati, 1995 : 1- 2)
Istilah Sunda sendiri yang menunjukan pengertian wilayah di bagian barat pulau Jawa beserta segala aktivitas manusia di dalamnya, baru muncul pada abad ke 11 M. Istilah tersebut tercatat dalam prasasti yang ditemukan di Cibadak Kabupaten Sukabumi. Dalam prasasti yang berangka 952 tahun Saka (1030 M) itu diterangkan bahwa Sri Jayabhupati – penguasa yang mengeluarkan prasasti itu – adalah seorang raja Sunda. Namun tidak berarti bahwa tahun prasasti itu adalah tahun pendirian kerajaan Sunda. Berbagai petunjuk, selama ini diyakini bahwa nama kerajaan Sunda dipergunakan sejak naik tahtanya Sang Tarusbawa yang memerintah pada tahun 591 – 645 Saka atau 699 – 723 Masehi. Artinya kerajaan Sunda sudah berdiri sejak abad ke 7 Masehi. Hampir bersamaan dengan naik tahtanya Sang Tarusbawa, raja kerajaan Kendan yaitu Sang Wretikendayun yang merupakan bawahan kerajaan Tarumanagara memisahkan diri kemudian mendirikan Kerajaan Galuh Pakuan. Dengan demikian, sejak tahun 669 M itu kerajan Tarumanagara sebagai sebuah kerajaan besar di Jawa Barat berakhir dan kemudian muncul dua kerajaan baru yaitu :
1. Kerajaan Galuh yang menguasai wilayah timur sungai Citarum
2. Kerajaan Sunda yang menguasai wilayah barat sungai Citarum
“Kendan adalah nama sebuah bukit yang terletak di 500 meter di sebelah stasiun Nagreg sebelah tenggara Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pada kaki bukit tersebut terdapat sebuah kampung bernama Kendan, termasuk Desa Citaman, Kecamatan Cicalengka”(Iskandar, 1997 : 101). Selain nama kerajaan, Kendan juga adalah nama ibukota kerajaan. Pada masa Sang Kandiawan ibukota kerajan Kendan pindah ke Medang Jati dan penguasa selanjutnya yaitu Sang Wretikendayun kembali memindahkan ibukotanya ke Galuh (permata). “Galuh berada di lahan yang diapit oleh sungai Cimuntur dan Citanduy. Lokasi bekas Galuh tersebut, sekarang dikenal sebagai Desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis” (Iskandar, 1997 : 101).
Mengenai eksistensi kerajaan Sunda dapat dilihat dalam laporan Tome Pires seorang Portugis yang melakukan perjalanan keliling di kepulauan Nusantara pada tahun 1513. Dalam catatan Tome Pires, pada waktu kerajaan Sunda menempati wilayah yang disebut tanah Sunda. Saleh Danasasmita menyimpulkan keterangan Tome Pires dimaksud sebagai berikut :
a. Di pulo Jawa, ti Cimanuk ka kulon jadi wewengkon kakawasaan raja Sunda.
b. Dayeuh tempat kalungguhan raja Sunda ayana di pagunungan, anggangna dua poe perjalanan ti palabuan Kalapa nu aya di muara Ciliwung” (Danasasmita, 2003 : 55)
Artinya :
a. Di pulau Jawa dari sungai Cimanuk ke arah barat menjadi daerah kekuasaan raja Sunda.
b. Ibukota (tempat) kediaman raja Sunda berada di daerah pegunungan yang jaraknya kira – kira memakan waktu dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kelapa yang berada di muara sungai Ciliwung.
Selanjutnya oleh Saleh Danasasmita disimpulkan bahwa berdasarkan keterangan Tome Pires di atas dapat dipastikan kalau ibukota kerajaan Sunda itu adalah Pakuan Pajajaran yang berarti istana berjajar yang jumlahnya terdiri dari 5 keraton dengan bentuk dan tata letaknya sama dan sejajar yaitu keraton Bima-Punta-Narayana-Madura dan Suradipati. Menganai hal ini Drs. Yoseph Iskandar menguraikan :
“Ihwal keraton Pakuan Pajajaran diberitakan juga oleh Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 halaman 204 – 205, yang kutipannya adalah sebagai berikut :
Hana pwanung mangadegakna Pakwan Pajajaran lawan kedatwan Sang Bima-Punta-Narayana-Madura Suradipati ya ta Sang Prabu Tarusbawa.
Terjemahannya antara lain :
Adapun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima-Punta-Narayana-Madura Suradipati adalah Sang Prabu Tarusbawa” (Iskandar, 1997 : 228)
Nama keraton sering berubah menjadi nama ibukota atau bahkan akhirnya menjadi sebutan sebuah negara atau kerajaan. Sebagai contoh adalah Saunggalah di Kuningan. Saunggalah yang berarti bangunan memanjang adalah nama sebuah keraton, tapi kemudian berubah menjadi nama sebuah tempat. Demikian pula dengan nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat. Keduanya adalah nama keraton . Sekarang meluas menjadi nama kota bahkan propinsi. Dalam penyebutannya sendiri orang cukup dengan menyebut Yogyakarta atau malah Yogya.
Hal ini berlaku juga terhadap kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran. Sejak abad ke 17 Masehi sumber yang berasal dari Jawa cenderung menyebut Pajajaran sebagai nama kerajaan di bagian barat pulau Jawa. Begitupula dalam sumber yang berasal dari Banten dan Cirebon, sesudah abad ke 18 Masehi selalu menyebut kerajaan itu dengan Pajajaran bukan kerajan Sunda lagi. Bahkan secara internal penggunaan Pajajaran untuk menyebut nama kerajaan sudah tercatat sejak abad ke 15 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Susuktunggal.
Timbulnya gejala tersebut kemungkinan akibat sering terjadinya perpecahan dan bersatunya kembali antara kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, dimulai sejak terpecahnya Tarumanagara pada tahun 669 Masehi. Mungkin penduduk Jawa Barat pada waktu itu, tingkat kejenuhannya oleh perang dan damai sudah mencapai titik kulminasi. Kurang lebih 8 abad peristiwa tersebut berlangsung sehingga mereka lebih senang menyebut kerajaan Pajajaran dari pada dibingungkan oleh dua sebutan (Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda) yang hakikatnya adalah satu. Mungkin mereka merasa solid dalam satu identitas etnis Pajajaran saja.” (Iskandar, 1997 : hal 229).
Seiring dengan itu, di awal abad ke 16 Masehi ajaran Islam sudah mulai diterima oleh penduduk Jawa Barat. Tidak hanya itu, bahkan Banten dan Cirebon berangsur melepaskan diri dari kerajaan Pajajaran dan kemudian dikenal sebagai kerajaan Islam. Sebaliknya, pada masa itu kerajaan Pajajaran sudah memberikan kebebasan kepada penduduknya untuk menentukan keyakinan sendiri. Agama Budha berkembang pesat di kerajan Talaga, Hindu berkembang di daerah Cangkuang Garut. Bahkan ketika Sri Baduga Maharaja meresetui penobatan Walangsungsang, puteranya itu telah bergelar Haji Abdullah Iman. Artinya, penyebaran agama Islam yang berpangkal dari Kerajaan Demak dan sudah mulai menyentuh penduduk JawaBarat itu sebenarnya tidaklah menjadi kekhawatiran sama sekali bagi Pajajaran. Kekhawatiran itu muncul justru karena Demak menjadi saingan perdagangannya. Selain itu, Demak juga dikenal sebagai kerajaan yang memiliki armada laut yang tanggguh, kontradiksi dengan Pajajaran yang justru hanya memiliki ketangguhan di darat. Terlebih hal ini kemudian diperparah oleh kehadiran armada laut Demak di Cirebon. Atas dasar pertimbangan inilah kemudian Pajajaran melakukan perjanjian bilateral dengan Portugis yang berlangsung pada tahun 1512 M. Perjanjian kedua negara ini terus berlanjut, sementara di lain pihak Demak pun terus berupaya untuk melumpuhkan Portugis yang telah berulang kali berhasil memukul mundur serangan Demak. Untuk menggapai impiannya itu maka Demak mulai memancangkan pertahanannya di Cirebon dan Banten yang sekaligus semakin memperlemah eksistensi Pajajaran. Puncak keruntuhan kerajaan Sunda ini terjadi pada tahun 1579 setelah Maulana Yusuf Raja Banten ketiga yang dibanu oleh kerajan Cirebon dapat menguasai Pakuan Pajajaran ibukota kerajaan Sunda. Selain didukung bala bantuan dari kerajaan Cirebon, orang dalam yang yang sakit hati juga turut mempermulus keruntuhan Benteng Pakuan yang dulu terkenal tangguh. Bahkan lima keraton berjajar lambang kemegahan Pajajaran yaitu Sri Bima-Punta-Narayana-Madura –Suradipati dibakar dan dibumi hanguskan.
Setelah meluluh-lantakan lambang kebesaran kerajan Sunda di Pakuan Pajajaran, serangan diteruskan ke Pulosari – Pandeglang tempat “pengungsian” raja terakhir Pajajaran yaitu Prabu Ragamulya Suryakancana. Secara kebetulan, ternyata daerah Pulosari yang tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang Kampung Kadu Hejo Kecematan Menes Kabupaten Pandeglang ini juga adalah tempat dahulu Sang Dewawarman mendirikan Rajatapura, ibukota kerajan Salakanagara pada tahun 130 Masehi sebagai cikal bakal kerajaan Tarumanagara yang kemudian berubah nama menjadi Kerajaan Sunda dan lebih dikenal dengan kerajaan Pajajaran. Menurut catatan Pangeran Wangsakerta Cirebon pada tahun 1677 dalam Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219 disebutkan bahwa “Pajajaran lengnyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka bertepatan dengan tanggal 11 Rabiu’awal 987 Hijriyah atau tanggal 8 Mei 1579 Meshi” (Iskandar, 1997 : 294).

2. Pembentukan Propinsi Jawa Barat
Pasca runtuhnya kerajaan Sunda, selanjutnya wilayah yang selama ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda terbagi menjadi beberapa kerajaan, yaitu Sumedanglarang, Cirebon, Galuh, dan Banten. Pada perkembangan selanjutnya, wilayah bekas kerajaan Sunda ini lebih dikenal dengan sebutan Tanah Sunda, atau tatar Sunda atau Pasundan. Sedangkan Galuh dan Sumedanglarang lebih khusus disebut daerah Priangan dan dipandang sebagai pusat Tanah Pasundan. Daerah Priangan yang dianggap pusat Tanah Pasundan itu memang merupakan daerah pegunungan dengan puncak – puncaknya yang cukup tinggi. Tidaklah mengherankan apabila orang – orang yang tinggal di daerah pesisir pantai sering menyebut orang Sunda dengan sebutan urang gunung, wong gunung atau tiyang gunung yang berarti orang gunung.
Adapun istilah Jawa Barat disinyalir diambil dari istilah yang digunakan oleh Belanda sebagai terjemahan dari West Java yang mulai muncul pada abad ke 19 ketika pulau Jawa telah dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Untuk kepentingan pemerintahan dan militernya, pulau Jawa kemudian dibagi menjadi 3 bagian yaitu Jawa Barat, Tengah dan Jawa Timur.
Menurut orang Belanda sendiri pembagian seperti itu telah terjadi sejak tahun 1705 M. “Pada tahun tersebut Mataram menyerahkan wilayah bagian barat Pulau Jawa kepada Belanda (VOC) kecuali wilayah yang dikuasai oleh Kesultanan Banten. Pada tahun berikutnya ditentukanlah batas wilayah antara Mataram dan Kumpeni, yaitu sungai Cilosari di utara dan sungai Cidonan di selatan. Batas di sebelah selatan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Deandels (1808 –1811) digeser ke sebelah barat, sehingga batasnya menjadi sungai Citanduy (Ali, 1975: 11 – 12) Akan tetapi pada waktu itu belum dikenal istilah West Java” (Edi S. Ekadjati, 1995 : 10)
Istilah West Java yang menunjukkan wilayah bagian barat pulau Jawa secara resmi dan populer digunakan mulai tahun 1925 dengan batas – batas sebagaimana telah ditetapkan oleh Mataram dan pemerintah Hindia Belanda tahun 1705 yang meliputi wilayah – wilayah Banten, Batavia, Priangan, dan Cirebon sesuai Staatsblad no 235 dan 378 tahun 1925.

2.1. Geografis
Secara geografis Jawa Barat terletak berbatasan wilayah sebelah utara dengan Laut Jawa, bagian barat dengan Propinsi Banten, sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah, dan sebelah selatan dengan Samudera Indonesia. Luas wilayah Jawa Barat setelah dikurangi propinsi Banten sekarang menjadi 35.746, 26 Km2.
Di lihat dari letaknya, Jawa Barat juga merupakan daerah penyangga Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Karena itu Jawa Barat mempunyai peranan dan fungsi yang sangat penting terutama dalam menunjang eksistensi DKI Jakarta. Kondisi ini menuntut Jawa Barat berfungsi ganda, yaitu membangun dan mengembangkan wilayahnya sendiri di lain pihak juga harus berfungsi sebagai pendukung utama keberadaan ibukota Negara Republik Indonesia.
Kondisi geografis yang strategis ini merupakan keuntungan bagi daerah Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan. Kawasan utara merupakan daerah berdatar rendah, sedangkan kawasan selatan berbukit bukit dengan sedikit pantainya sedangkan di kawasan tengahnya dataran tinggi bergunung gunung. Kota Bandung yang merupakan ibukota propinsi Jawa Barat berada hampir di tengah – tengah wilayah Jawa Barat. Kota ini terletak kira kira 187 Km dari Jakarta, 129 Km dari Kota Bogor, 130 Km dari Kota Cirebon dan 106 Km dari Kota Tasikmalaya.

2.2. Lingkungan Alam
Jawa Barat memiliki wilayah pegunungan yang lebih luas dibandingkan dengan dataran rendahnya. Secara detail Jawa Barat dibagi atas empat bagian (zone), yaitu zone Jakarta, Bogor, Bandung dan Pegunungan Selatan.
Zone Jakarta merupakan dataran rendah yang lebarnya sekitar 40 Km dan terbentang dari Serang di sebelah Barat sampai ke daerah Cirebon di sebelah timur. Dataran ini sebagian besarnya terdiri atas endapan alluvial yang terbawa oleh aliran sungai dan lahar dari gunung – gunung berapi di daerah pedalaman. Sebagian besar daratan ini merupakan hamparan pesawahan dengan perairan teknis.
Zone Bogor adalah merupakan komplek perbukitan dan pegunungan yang terletak di sebelah selatan zone Jakarta dengan lebar kira kira 40 Km. Zone ini terbentang dari daerah Jasinga (Kabupaten. Bogor) di sebelah barat sampai ke sungai Cipamali dan Bumiayu Jawa Tengah. Zone ini secara garis besar terdiri dari dua bagian. Pertama, bagian barat yang berpusat di Bogor dan berakhir di gunung Sanggabuana Kabupaten Purwakarta. Sedangkan bagian kedua adalah bagian timur yang dibentuk oleh gunung – gunung baru, seperti komplek gunung Ciremai, Komplek Gunung Tampomas dan komplek Gunung Sunda yang terdiri dari gunung Burangrang, Tangkuban Parahu, Bukit Tunggul, dan Gunung Manglayang.
Zone Bandung yang lebarnya sekitar 20 – 40 Km terbentang dari Teluk Pelabuhan Ratu melalui Lembah Cimandiri, Sukabumi, dataran Cianjur, dataran tinggi Bandung, Garut Tasikmalaya, sampai ke Citanduy dan berakhir di Sagara Anakan. Antara zone Bandung dengan zone Bogor dibatas oleh barisan gunung yang terbentuk pada zaman kuarter, yaitu gunung Gagak, Salak, Pangrango, dan gunung Gede.
Zone Pegunungan Selatan dibentuk oleh pegunungan di Priangan Selatan. Zone ini memiliki lebar kurang lebih 50 km dan menyempit ke arah timur (Nusakambangan). Zone ini secara fisiografis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu seksi Jampang dengan rata rata ketinggian 1.000 m, kemudian di bagian tengah adalah seksi Pangalengan yang merupakan seksi tertinggi. Bagian ketiga adalah seksi Karangnunggal. Pada seksi ini hampir mirip dengan seksi Jampang, ketinggiannya tidak lebih dari 1000 m, kecuali gunung Bongkok yang mencapai 1.144 m.
Dari uraian di atas, nampak bahwa Jawa Barat banyak dipasak oleh gunung gunung baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Karena banyaknya gunung, maka di sela-sela gunung itu tentu saja mengalir sungai sungai yang mengalir menuju ke daerah yang lebih rendah letaknya dan berakhir di laut. Banyaknya aliran sungai bagi penduduknya mengilhami untuk mengaitkan air (Cai dalam bahasa Sunda, dan kemudian penyebutannya disingkat menjadi “Ci”) dengan nama tempat seperti Cimahi, Cianjur, Ciamis, Cibinong, Cibeo, Cibeureum, Cibodas dan lain – lain.
Banyaknya sumber mata air dan aliran sungai yang meliuk – liuk di bumi Jawa Barat berakibat munculnya kemudahan pembentukan danau, baik yang terbentuk secara alamiah maupun hasil buatan dan rekayasa manusia. Danau alam misalnya adalah situ Patenggang dan Ciburuy di Bandung, Situ Talagawarna di Bogor, Situ Bagendit dan Cangkuang di Garut, dan Situ Panjalu di Ciamis. Adapun danau-danau buatan sekarang ini terdapat di Kuningan (Waduk Darma), Jatiluhur di Purwakarta, Cirata di Cianjur dan Saguling di Bandung.
Seperti wilayah – wilayah lainnya, Jawa Barat juga memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Umumnya, pada enam bulan pertama, yaitu sejak Maret hingga Agustus terjadi musim kemarau disebabkan oleh arah angin yang datang dari arah timur dan tenggara. Tiupan angin ini adalah angin kering yang tidak membawa uap angin. Sebaliknya ketika angin bertiup dari arah barat (daratan Asia) angin ini mengandung banyak air dan mengakibatkan terjadinya musim penghujan selama kurang lebih enam bulan mulai bulan September sampai Februari. Rata rata curah hujan mencapai 2.000 mm, bahkan di beberapa daerah tertentu mencapai angka 3.000 – 5000 mm seperti di daerah Bogor yang dikenal dengan kota hujan.
Lapisan atas tanah di wilayah Jawa Barat banyak mengandung endapan alluvial dan vulkanis yang berasal dari letusan gunung berapi. Inilah yang menyebabkan wilayah Jawa Barat terkenal subur yang memungkinkan tumbuh suburnya beraneka ragam tanaman, seperti di Gunung Gede tercatat lebih dari 300 macam tanaman tumbuh dengan suburnya.

2.3. Demografi
Pada tahun 1971, jumlah penduduk Jawa Barat tercatat sebanyak 21,62 juta orang. Sembilan tahun kemudian meningkat menjadi 27,67 juta jiwa dan pada tahun 1988 tercatat berjumlah 33,1 juta jiwa. Setelah Banten terpisah, berdasarkan sensus penduduk jumlah penduduk Jawa Barat tercatat sebanyak 35.500.611 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 1.022 jiwa per Km2. Selama sepuluh tahun, yaitu 1990 – 2000 laju pertumbuhan penduuk mencapai angka 2,17 %. Sensus tahun 2003 penduduk Jawa Barat menunjukkan angka 38.059.540 jiwa dengan kepadatan penduuk mencapai angka rata – rata 1.064 jiwa per Km2. Data kependudukan terakhir, yaitu tahun 2005 tercatat sebagai berikut : (Hasil internet)

3. Jawa Barat di Masa Kolonial Belanda dan Pendudukan Jepang
Di kawasan Eropa, sekitar abad 15 dan 16, Portugal merupakan bangsa yang unggul sebagai bangsa pelaut. Tidaklah mengherankan kalau pada saat itu Portugal memonopoli seluruh perdagangan rempah – rempah yang berasal dari belahan Asia, bahkan belakangan Portugal justru menghadapi kesulitan untuk mengatur monopoli yang dimilikinya.
Kesempatan ini tercium oleh para saudagar Belanda, dan kemudian mengatur strategi untuk menjadi pesaing terbesar bagi Portugal. Untuk kepentingan itulah Belanda mengirimkan sebuah armadanya yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman menjelajah Asia. Armada Houtman berangkat dari Belanda pada tanggal 2 April 1595. Pada tahun itu, Houtman berhasil membeli rempah – rempah dari raja-raja di Jawa, Sumatera dan Bali setelah sebelumnya singgah terlebih dahulu di sebelah timur India. Sejak itulah para saudagar Belanda berebut dan bersaing ketat untuk misi perdagangan rempah – rempah di Asia khususnya di kepulauan Nusantara. Melihat gelagat tidak sehat ini parlemen Belanda membentuk Verenigde Oostindische Compagnie disingkat VOC yang berarti Persatuan Perusahan Hindia Timur pada tanggal 20 Maret 1602. Bagi Belanda VOC.adalah sebuah perusahan multi nasional pertama di dunia sekaligus pembawa kemakmuran bagi negerinya.
Selain memonopoli perdagangan, Pangeran Mauritz juga memberikan mandat yang lebih dari sekedar berdagang kepada VOC. Pangeran Belanda ini bahkan melengkapi mandat VOC dengan hak hak kekuasaan raja dan pemerintahan. Dengan demikian, atas nama negaranya (Belanda) VOC memiliki kewenangan untuk mengadakan perjanjian dengan para penguasa atau raja-raja di wilayah Asia, membangun benteng sebagai sistem pertahanan, membentuk pasukan militer, membentuk peradilan bahkan mengeluarkan mata uang sendiri. Karena keluasan mandat itu, dari tahun ke tahun VOC terus berkembang merajai dunia perdagangan khususnya di benua Asia. Bahkan tidak hanya itu, berdalih misi perdagangan, dalam kenyataannya VOC adalah penguasa sekaligus pengendali pemerintahan di setiap jengkal tanah yang diinjaknya. Mereka melakukan perjanjian perdagangan dengan penguasa daerah yang tentu saja menguntungkan VOC. Tidak jarang penguasa yang menolak dipaksanya dengan menggunakan kekerasan militer. Karena itu para penguasa daerah yang melakukan perjanjian kerja, nampaknya lebih cocok untuk disebut “taklukan” ketimbang mitra kerja.
Sebagai ilustrasi adalah apa yang pernah terjadi di Cirebon. “Dalam hubungan perjanjian dengan VOC, para sultan Cirebon harus pula meminta persetujuan Komisaris VOC apabila akan melakukan kebijakan -–kebijakan yang meliputi berbagai bidang terutama politik dan perdagangan. Selain itu, mereka harus menyediakan tenaga kerja sejumlah 400 orang setiap tahunnya sebagai tenaga kerja wajib. Soal – soal lain yang tidak berkaitan dengan masalah monopoli perdagangan VOC, biasanya tidak digubris oleh VOC. Misalnya yang berkaitan dengan kehidupan kebudayaan kraton”(Lubis, 2000 : 43)
Hal ini berlanjut selama abad ke 17 dan 18. Di akhir abad ke 18 VOC mengalami kebangkrutan akibat pemberontakan – pemberontakan, peperangan antara Belanda dengan Spanyol dan Portugal disamping degerogoti oleh korupsi yang sudah akut di tubuh VOC. Pada tanggal 31 Desember 1799 VOC resmi bubar. Namun demikian bukan berarti petualangan Bangsa Belanda di Nusantra berakhir.
Sejak berakhirnya eksistensi VOC, dengan sendirinya seluruh daerah bekas jajahan VOC di Indonesia dipindah-tangankan dan dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan gubernur jenderal pertamanya Herman Willem Daendels (1808 –1811). Sekalipun VOC suah bubar, dalam kenyataan sehari – hari di Indonesia seolah tidak terjadi apa apa. Hindia Belanda engan ibukota di Batavia tetap berjalan terus bahkan sejak tanggal 1 Januari 1800 Hindia Belanda adalah benar-benar merupakan sebuah negara. Peubahan hanya bersifat aministratif di atas kertas saja. Semuanya berjalan seperti sebelumnya, kerja rodi masih tetap berlanjut, pemerasan rakyat lewat penanaman kopi, lada, tebu, kapas dan lain-lain tidak pernah berhenti bahkan semakin mencapai puncaknya karena pemerintah Belanda harus melunasi utang – utang peninggalan VOC yang sudah menggunung. Bahkan dalam kondisi seperti inilah peranan Jawa Barat nampak lebih menonjol bagi eksistensi pemerintah Belanda karena daerah Jawa Barat yang betul – betul dapat memenuhi segala kebutuhan Belanda. Tanpa eksport kopi dan lada yang dihasilkan Jawa Barat, tiak mungkin Belana apat mengeruk uang dan keuntungan. Seluruh tindakan Belanda di daerah kekuasaanya telah berubah menjadi tinakan sebuah negeri penjajah yang apapun kebijakannya adalah untuk meraup keuntungan yang sebesar besarnya untuk kepentingan di negeri asalnya yang tengah mengalami kemorosotan ekonomi disamping secara politis mendapat ancaman dri berbabagai negara besar yang setiap setiap saat bisa mengancam eksistensinya. Salah satu tindakan fenomenal yang dilakukan oleh orang Belanda adalah kerja paksa (rodi) untuk membuat jalan raya yang menghubungkan Anyer dan Panarukan. Pembuatan jalan ini dimaksudkan untuk memuahkan pengangkutan militer dalam menghadapi peperangan dengan Inggris disamping tentu saja mempunyai pernan penting pula dalam kaittanya dengan perekonomian. Kerja paksa yang memakan korban puluhan ribu orang pribumi ini diperintah oleh Gubernur Jenderal Deandels yang terkenal bengis dan kejam.
Tidak hanya itu, kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia berangsur pula telah mengakhiri kekuasaan para raja khususnya di Jawa Barat yang ditutup dengan berakkhirnya kekuasan raja-raja di Banten (1813) dan Cirebon (1815). Sejak itulah secara de facto Jawa Barat menjadi tanah jajahan murni yang diperintah langsung dari Batavia. Dengan berbagai dalih seperti Cultuurstelsel (1830-1870) yang slogannya untuk memajukan dan mendidik rakyat, seluruh potensi Jawa Barat dikuras oleh penjajah Belanda baik sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya. Bayangkan saja pada tahun 1902 di Jawa Barat tercatat ada sekitar 81 buah perkebunan teh dari 100 perkebunan teh di seluruh Hindia Belanda. Dari 82 perkebunan kina di seluruh Hindia Belanda 60 diantaranya berlokasi di daerah Jawa Barat.
Bagi Belanda sistem tanam paksa ini mendatangkan keuntungan yang sangat berlimpah. Namun sebaliknya, bagi bangsa Indonesia tindakan ini semakin memperpanjang kenestapaan. Tidaklah mengherankan apabila kebijakan ini pada akhirnya melahirkan berbagai pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Tidak hanya dari kalangan pribumi, tercatat sedikitnya Douwes Dekker dan Baron van Houvell yang mengutuk dengan pedas kebijakan ini.
Menanggapi protes dan kritikan ini, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan baru dalam bidang agraria yang pada dasarnya pemerintah membuka pintu untuk penanaman modal di bidang perkebunan. Kebijakan ini mengakibatkan menjamurnya berbagai perusahaan Eropa yang bersaing menanamkan modalnya di bidang perkebunan dan pabrik gula. Melihat perkembangan ini pemerintah Hindia Belanda memandang bahwa untuk mengimbangi berkembangnya perusahaan – perusahaan itu iprlukan pemerintahan yang kuat disamping penyediaan pekerja upah dari kalangan penduduk pribumi. Untuk menjawab tuntutan itu disamping juga karena muncul berbagai desakan untuk meminimalisir penderitaan penduduk pribumi, pemerintah Hindia Belanda secara resmi sejak tahun 1901 melancarkan ethisce Politik Salah satu kebijakan berkenaan dengan diberlakukannya ethische politik itu adalah berdirinya beberapa sekolah seperti tersebut di bawah ini :
1. Tahun 1906, Sekolah teknik (Koning Willem III School) di Jakarta . Sekolah ini untuk mempersiapkan tenaga ahli bangunan an pembuatan jalan.
2. Tahun 1909, Sekolah kehakiman (Recht School) di Jakarta. Sekolah ini untuk memprsiapkan tenaga ahli hukum.
3. Tahun 1912, Sekolah Pertanian (Cultuur School) Mula mula didirikan di Bogor, tapi kemudian pindah ke Sukabumi. Sekolah ini untuk mempersiapkan tenaga ahli pertanian.
4. Tahun 1913, Sekolah Pertanian Menengah (Middelbare Landbouw School) di Bogor. Sekolah ini untuk mempersiapkan tenaga pimpinan pertanian rakyat dan perkebunan.
5. Tahun 1914, Sekolah Dokter Hewan di Bogor.
6. Tahun 1914, Sekolah Pamongpraja (Bestuur School) di Jakarta. Sekolah ini merupakan penyempurnaan dari sekolah calon pegawai pamongpraja yang berdiri sejak tahun 1878. Sekolah ini terutama diperuntukkan bagi para anak bupati.

Secara geografis tentu hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi Jawa Barat, karena Jakarta yang pada waktu itu dikenal dengan nama Batavia masih termasuk wilayah Jawa Barat. Disamping itu, tentu saja hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat Jawa Barat karena sekalipun hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat, melalui perkenalannya dengan dunia pendidikan telah membuka cakrawala berfikir yang lebih luas.
Salah satu dampak yang banyak dirasakan dari terbukanya kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi adalah meluasnya penggunaan huruf latin. Padahal sebelumnya, yaitu pada abad 19 masyarakat Jawa Barat terutama di kalangan bangsawan lazim mempergunakan aksara Sunda yang berpangkal pada hurup Jawa Mataram atau justru menggunakan huruf Arab yang banyak tersebar penggunaanya di kalangan santri.
Selain itu, tidak lama berselang setelah Pemerintah Hindia Belanda melancarkan kebijakan tadi, di Jawa Barat berdiri beberapa organisasi perjuangan, diantaranya:
1. Indisce Partij, didirikan di Bandung tanggal 25 Desember 1912 dengan tokohnya E.F.E. Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat yang kemudian berjuluk Ki Hajar Dewantara..
2. Pagoeyoeban Pasoendan pada tanggal 22 September 1914 dengan ketuanya Daeng Kanduruan Ardiwinata, seorang putera Sunda keturunan bangsawan Bugis.
3. Perserikatan – yang kemudian pada kongres I diganti dengan Partai Nasional Indonesia (PNI). Berdiri pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung. Salah satu tokohnya adalah Ir. Soekarno.
4. Isteri Sedar, didirikan pada tanggal 22 Maret 1930 di Bandung.
Organisasi – organisasi di atas pada dasarnya bergerak untuk membuka peluang merebut kemerdekaan. Pagoeyoeban Pasoendan misalnya, untuk menumbuhkan dan menanamkan kepercayaan diri orang Sunda, sejak pemerintah Hindia Belanda membagi pulau jawa menjadi 3 propinsi pada tahun 1925 mengusulkan agar penyebutan Jawa Barat sebagai terjemaan dari West Java diganti menjadi “Provincie Pasundan”. Usul tersebut ternyata diterima pemerintah, Karena pemerintah rupanya menyadari kenyataan bahwa hampir sembilan puluh persen penduduk Jawa Barat terdiri dari suku Sunda. Secara kenyatan penduduk Jawa Barat memang memiliki kebudayaan, kesenian, adat-istiadat tersendiri yang khas, berbeda dengan daerah lain. Maka resmi pada tahun 1925 digunakan nama “Provincie Pasoendan” untuk Jawa Barat.” Pada waktu itu Jawa Barat terbagi atas 5 keresidenan dan terdiri dari 18 Kabupaten dan 6 stadsgeementen (kotapraja), yaitu :
1. Keresidenan Banten meliputi Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan Lebak.
2. Keresienan Batavia meliputi Kabupaten Batavia, Kabupaten Meester Cornelis, dan Kabupaten Karawang.
3. Keresidenan Buitenzorg (Bogor) meliputi Kabupaten Buitenzorg, Sukabumi dan Cianjur.
4. Keresidenan Priangan yang meliputi Kabupaten Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis.
5. Keresidenan Cirebon yang meliputi Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan dan Majalengka.
Sedangkan Stadsgemeente (kotapraja) terdiri dari enam gemeente, yaitu Batavia, Meester Cornelis, Buitenzorg, Bandung, Cirebon dan Sukabumi.
Sebuah kabupaten dibagi dalam beberapa kewedanan (distrik) yang dikepalai oleh seorang wedana. Tiap distrik dibagi lagi menjadi beberapa kecamatan (onderdistrik) dan dikepalai oleh seorang camat (asisten wedana). Sedangkan satu kecamatan terdiri dari beberapa desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa.
Sekalipun pemerintah Hindia Belanda telah memperkenalkan sistem pemerintah barat yang modern, namun dalam kenyataanya masih tetap menunjukkan feodalisme yang kuat. Sebagai contoh adalah kekuasaan Bupati. “Sistem pemerintahan maupun gaya hidup para bupati merupakan replika raja – raja” (Sofianto, 2001 : 30). Bahkan pada umumnya, pergantian bupati identik dengan yang berlaku pada pergantian raja raja. Apabila bupati meninggal atau karena sesuatu hal harus berhenti maka yang berhak menggantikannya adalah putera sulung atau menantu laki-lakinya.
Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya sejak tanggal 7 Maret 1942 Kepulauan Nusantara hanya dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu :
1. Jawa dan Madura berada di bawah Komando Militer Angkatan Darat Jepang (Rikugun) ke 16 yang berkedudukan di Jakarta.
2. Sumatera berada di bawah Komando Militer Angkatan Darat Jepang (Rikugun) ke 25 yang berkedudukan di Bukit Tinggi.
3. Kepualaun lain selain yang tersebut diatas, berada di bawah Komando Militer Angkatan Laut Jepang (Kaigun) yang berkedudukan di Makasar.
Setelah itu, secara berurutan struktur pemerintahan yang diberlakukan oleh Jepang di Indonesia adalah :
1. Syu (Keresidenan) yang dipimpin oleh seorang syuco (residen)
2. Ken dan Si (Kabupaten dan Kotamadya) yang dipimpin oleh seorang ken (Bupati) atau sico (Walikota)
3. Gun (Kewedanaan) yang dipimpin oleh seorang Gunco (Wedana)
4. Son (Kecamatan) yang dipimpin oleh seorang Sonco (Camat)
5. Ku (Desa) yang dipimpin oleh seorang Kuco (Kepala Desa)
Melihat struktur di atas berarti bahwa kekuasaan tertinggi di daerah adalah Syu yang dipimpin oleh seorang Syuco (Residen). Ini berarti pula bahwa di jaman pendudukan Jepang pemerintahan propinsi yang sudah diberlakukan oleh pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1925 dihapuskan. Pulau Jawa dan Madura, dibagi oleh Jepang menjadi 16 Syu (Keresidenan). Di wilayah yang sebelumnya disebut propinsi Jawa Barat terdapat 5 syu, yaitu Banten Syu, Jakarta Syu, Bogor Syu, Priangan Syu, dan Cirebon Syu. Priangan sendiri terdiri dari 5 Ken dan 1 Si, yaitu Bandung Ken, Bandung Si, Garut Ken, Tasikmalaya Ken, Sumedang Ken, dan Ciamis Ken. Pada masa pendudukan Jepang ini, sekalipun para kepala pemerintahan diangkat dari kalangan Bumi Putera, namun pada dasarnya kekuasaan mutlak sepenuhnyaaa di tangan Balatentara Jepang.
Pada awalnya kehadiran tentara – tentara Jepang dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang akan membebaskan mereka dari kekangan penjajah Belanda. Hal ini diperkuat oleh diperkenankannya pengibaran bendera merah putih, pengumandangan lagu-lagu kebangsaan, disamping bangsa Jepang sendiri yang selalu mengaku dirinya sebagai Saudara Tua bagi bangsa Indonesia.
Perubahan sosial politik baru terasa berubah setelah beberapa bulan Jepang berkuasa. Sikap mereka yang tadinya ramah dan simpatik berubah menjadi kejam dan bengis. Berbagai peraturan berangsur dilahirkan oleh mereka sekalipun bertentangan dengan hati nurani masyarakat. Misalnya adalah keharusan menghormat bendera Jepang Hinomaru, menyanyikan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo sebaliknya mengibarkan benera merah putih dan menyanyikan lagu kebangsaan sendiri dilarang. Bahkan lebih dari itu, beberapa upacara diharuskan pula kepada seluruh masyarakat diantaranya upacara makuto yaitu upacara pengheningan cipta atau seikerai yaitu melakukan penghormatan kepada kaisar Jepang Tenno Heika enggan cara menundukan kepala ke arah Tokyo ibukota Jepang.
Setelah mengalami berbagai kekalahan dalam perang di Pasifik tentara Jepang dihadapkan dengan berbagai kesulitan terutama untuk memenuhi kebutuhan personil militer an logistik. Untuk kepentingan itu, maka Jepang merekrut penduduk jajahan disamping menguras sumber daya alamnya. Melalui unit – unit desa terkecil, rakyat diwajibkan mengumpulkan hasil bumi berupa padi, jagung dan buah – buahan. Para petani bahkan dipaksa untuk menanam tanaman tertentu sesuai dengan kebutuhan Jepang. Para penddukuuk juga dipaksa untuk mengikuti kerja Romusha seperti dalam pembuatan lapangan terbang di Cilampeni atau gua – gua pertahanan militer, untuk pembuatan jalan kereta api dan lain lain. Saking menedritanya rakyat saat itu, khususnya di Jawa Barat mengkonsumsi umbi – umbian seperti ubi jalardan singkong seperti sudah menjadi makanan pokok pengganti nasi pakaian dari karung atau karet yang menyebabkan gatal – dan borok
Dalam bidang pendidikan, diawal kedatangan hampir dapat dikatakan bahwa sekolah-sekolah bentukan atau juga warisan pemeritah Hindia Belanda dibubarkan oleh Jepang. Menyusul kemudian sekitar bulap April 1942 sekolah sekolah tersebut dibuka kembali dengan nama Sekolah Rakyat (Kokumin Gokko) dengan lama pendidikan 6 tahun.
Jepang memberlakukan bahwa seluruh sekolah memiliki derajat yang sama dan tidak hanya hak monopoli golongan masyarakat tertentu. Penghapusan dikriminasi alam biang peniikan ini melahirkan damapak yang sangat positif karena seluruh penduduk memiliki kesamaan hak untuk menikmati pendidikan tanpa membedakan satatus sosial. Hanya saja seluruh sekolah sangat ipengaruhi oleh kepentingan tentara Jepang yang pada dasarnya menanamkan kepada seluruh peserta didik untuk mengabdi kepada Pemerintahan Pendudukan Jepang. Hal ini tiaada lain dalam rangka memupuk kesiapan untuk menghaapi perang melawan tentara sekutu dengan semboyan “Asia Timur Raya untuk kemakmuran bersama”.

4. Jawa Barat di Masa Kemerdekaan
Sekalipun Jepang berupaya untuk mnyembunyikan berita tentang malapetaka di negerinya yaitu jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara sekutu, akhirnya berita ini tercium juga oleh bangsa Indonesia, terutama kalagan pemua an terpelajar. Oleh meraka, kesempatan ini tiak disia-siakan dan kerja kerasnya kemudian berbuah dengan berkumandangnya Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Menyusul bergemanya kemerdekaan Indonesia, setelah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang kemudian berubah menjadi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) menetapkan Undang undang Dasar (UUD) 1945, dan menetapkan Presdien danWakil Presiden pertama, pada sidangnya tangal 19 Agustu 1945 ditetapkan pembagian daerah Indonesia ke alam 8 Propinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Borneo (Kalimantan), Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil.
“Menurut Undang – undang No. 1 tahun 1945 Daerah Djawa Barat djadi Daerah Otonom Propinsi dengan M. SUTARDJO KARTO HADIKUSUMO sebagai Gubernur dan berkedudukan di Djakarta…. Pada saat itu Daerah Djawa Barat terdiri dari :
(1). 5 Kota Otonom (Kota2; Djakarta, Bandung Bogor, Tjirebon, dan Sukabumi).
(2). 5 Keresidenan (Keresidenan2 ; Djakarta-Raja, Priangan, Tjirebon, Bogor dan Banten).
(3). 17 Kabupaten (Kabupaten2; Bandung, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Tjiamis, Tjirebon, Kuningan, Madjalengka, Indramaju, Purwakarta, Tangerang, Tjiandjur, Sukabumi, Bogor, Serang, Rangkasbitung, dan Pandeglang. (Koordinasi Pembangunan Daerah tingkat I Jawa Barat. TT : 4 – 5)
Sukacita bangsa Indonesia yang telah mengenyam kemerdekaan, ternyata tidak berlangsung lama. Tentara Sekutu yang bertugas melucuti senjata Jepang ternyata membonceng Belanda di belakangnya. Berulang kali pertempuran antara penduduk dengan tentara Belanda akhirnya menyeret warga Bandung untuk bersikap tegas, 24 Maret 1946 Kota Bandung dibumi-hanguskan dan dikenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api.
Namun demikian, pada bulan Juli 1947 seluruh kota di Jawa Barat berhasil juga dikuasai Belanda. Sejak itu seluruh badan dan lembaga pemerintahan yang dibentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dihapuskan dan muncul surat keputusan Ltn. G.G. tanggal 11 Juni 1948 No 10 yag berisi bahwa Propinsi Jawa Barat dihapuskan yang bersamaan dengan itu dibentuk pula negara Pasundan dengan Walinegara R. A. A. Wiranatakusuma yang kemudian menjadi salah satu negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS). Namun kondisi ini tidak berlangsung lama, atas kegigihan para pejuang, pada tanggal 17 Agustus 1950 Jawa Barat kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Undang-undang No 11 tahun 1950 dan Peraturan pemerintah No 31 tahun 1950 yang mulai berlaku pada tanggal 15 Agustus tahun 1950 dengan Gubernur Sanoesi Hardjadinata.
Sampai tahun 2000, setelah kurang lebih 50 tahun sejak pembentukannya, wilayah Kabupaten/Kota di Jawa Barat baru bertambah 5 wilayah, yakni Kabupaten Subang (1968), Kota Tangerang (1993), Kota Bekasi (1996), Kota Cilegon dan Kota Depok (1999). Padahal dalam kurun waktu itu telah banyak perubahan baik menyangkut ekonomi, pemerintahan maupun kemasyarakatan.
Dengan lahirnya UU Nomor 23 tahun 2000 tentang Propinsi Banten maka wilayah administrasi Pembantu Gubernur Wilayah I Banten resmi ditetapkan menjadi sebuah propinsi yang terpisah dari Jawa Barat. Propinsi Banten memiliki wilayah yang terdiri dari Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, Kabupaten dan Kota Tangerang, serta Kota Cilegon. Sedangkan Jawa Barat sendiri kini memiliki 16 Kabupaten, 9 Kota dengan membawahi 584 Kecamatan dan 5.201 Desa serta 609 Kelurahan.

Bab I : Dikdik Dahlan L.

BAB I
PENDAHULUAN

Agama Islam mengajarkan kepada seluruh manusia untuk mengenali dirinya baik sebagai makhluk maupun hamba Allah. Disamping itu, Agama Islam juga mengajarkan tentang hal – hal yang harus dilakukan manusia baik terhadap Allah sebagai tuhannya, dirinya sendiri, keluarga, tidak terkecuali terhadap masyarakat di mana ia bertempat tinggal. Islam tidak hanya mengatur kehidupan perseorangan atau keluarganya tetapi lebih dari itu, Islam juga memiliki konsepsi yang lengkap tentang kehidupan seseorang di tengah masyarakatnya. Islam menginginkan terjelmanya pribadi yang penuh kebahagiaan di tengah masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur diridloi Allah Subhanahu wata’ala.
Masyarakat seperti itu tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diwujudkan melalui upaya dan perjuangan yang tidak mengenal lelah dan memakan waktu yang sangat panjang. Perjuangan menegakan kehidupan masyarakat ideal itu telah dicontohkan oleh para nabi dan Rasul, terutama Rasulullah SAW.
Perjuangan untuk menegakkan kehidupan masyarakat seperti itu kemudian menjadi tugas dan tanggung jawab setiap mukmin yang dalam pelaksanaanya dapat dilakukan secara perseorangan maupun dengan melalui pergerakan organisasi. Salah satu pergerakan itu adalah Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh K. H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Hal ini dapat dilihat dari rangkaian redaksi tujuan Muhammadiyah sejak berdirinya sampai saat ini, yaitu :
1. Rumusan pertama (waktu gerakan Muhammadiyah masih terbatas di Keresidenan Yogyakarta), dengan bunyi :
• Menyebarkan pengajaran K.N. Muhammad saw. kepada penduduk Bumi Putera di dalam keresidenan Yogyakarta.
• Memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya.
2. Rumusan kedua (sejak diijinkannya bergerak ke luar Yogyakarta) berbunyi :
• Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama Islam di Hindia Nederland, dan
• Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan Igama Islam kepada lid-lidnya.
3. Rumusan ketiga (zaman Pendudukan Jepang) tahun 1942 yang berbunyi :
“Hendak menyiarkan agama Islam dan melatihkan hidup yang selaras dengan tuntunannya”
4. Rumusan keempat (zaman Kemerdekaan) yang berbunyi :
“Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”
5. Rumusan kelima :
“Maksud dan tujuan persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”
6. Rumusan keenam :
“Maksud dan tujuan persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridloi Allah Subhanahu Wata’ala”.
7. Rumusan ketujuh, kembali menyatakan :
“Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.
Apa yang dilakukan oleh Kyai Ahmad Dahlan dengan membentuk persyarikatan bernama Muhammadiyah ditunjang dengan amalan-amalan nyatanya yang sangat relevan dan memenuhi kebutuhan masyarakat pada saat itu mendapat sambutan yang baik terutama dari mereka yang telah mendapat pencerahan pemikiran tentang pembaruan gerakan Islam. Hal ini kemudian mendorong Kyai Dahlan untuk melebarkan sayap pergerakannya tidak hanya di Yogyakarta saja. Upaya ini ditempuh dan baru mendapat respons dari pemerintah Hindia Belanda tahun 1921, lebih kurang sembilan tahun sejak pendiriannya.
Namun ternyata dalam kenyataanya izin dari pemerintah itu tidak menjadi batu sandungan untuk meluaskan gerakan Muhammadiyah. Di beberapa tempat telah berdiri cabang atau perkumpulan yang hakikatnya adalah gerakan Muhammadiyah tetapi tidak memakai nama Muhammadiyah. Salah satunya adalah di kota Garut. Dalam beberapa literatur, awal pergerakan Muhammadiyah di Garut mengatas namakan “Ahmadiyah” yang mulai nampak pergerakannya itu sejak tahun 1922. Dari Kota Garut kemudian merambat ke beberapa kota di Jawa Barat. Pada tahun 1935 hampir seluruh kota – kota di Jawa Barat telah menerima kehadiran Muhammadiyah baik Muhammadiyah sebagai organisasi resmi dengan struktur dan kepengurusan yang lengkap ataupun yang baru menerima terhadap faham keagamannya saja. Tapi di sisi lain secara lisan tidak sedikit yang mengutarakan bahwa kehadiran Muhammadiyah di beberapa kota di Jawa Barat baru melembaga di awal tahun 1950-an. Hal inilah diantaranya yang mendorong upaya penelusuran tentang pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah di Jawa Barat.
Untuk mengungkap dan menelusuri sejarah pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah di Jawa Barat itu maka dirumuskan beberapa pertanyaan dasar sebagai bingkai sekaligus pedoman dalam penelitian maupun penyusunannya, yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan istilah Sunda dan Jawa Barat sebagai kesatuan wilayah yang menjadi objek penelitian ini ?
2. Kapan dan bagaimana proses awal pertumbuhan Muhammadiyah di Jawa Barat ?
3. Kapan dan bagaimana proses awal pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya Muhammadiyah di Kota dan Kabupaten se – Jawa Barat ?
4. Kapan dan bagaimana proses pembentukan serta perkembangan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat ?
Dari beberapa pertanyaan di atas, maka untuk mengungkap dan menjawab pertanyaan – pertanyaan itu, di Bab II setelah Pendahuluan ini disampaikan terlebih dahulu tentang Sejarah Propinsi Jawa Barat yang mengungkap secara sekilas tentang Kerajaan Sunda, kemudian sejarah pembentukan propinsi Jawa Barat sendiri disertai penggambaran suasana dan perkembangan Jawa Barat baik di masa Kolonial Belanda, Pendudukan Jepang sampai masa kemerdekaan.
Setelah memaparkan tentang siapa orang Sunda dan bagaimana proses pembentukan serta perkembangan Propinsi Jawa Barat, di Bab III akan langsung diuraikan mengenai proses masuknya Muhammadiyah ke tatar sunda yang sebelumnya disajikan terlebih dahulu mengenai kehidupan beragama masyarakat Jawa Barat disamping faham keagamaan (Islam) yang berkembang di Jawa Barat.
Setelah menjawab tentang proses awal masuknya Muhammadiyah ke Jawa Barat, di Bab ke IV dipaparkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah di kota – kota di seluruh Jawa Barat yang disusun secara alpabetik. Pada bab ini yang menjadi sumber penulisan lebih banyak mendasarkan kepada hasil wawancara dengan para sesepuh dan atau mantan aktivis Muhammadiyah di daerah – daerah. Oleh karena itu, untuk melengkapi uraian di bab IV ini disampaikan pula perkembangan Muhammadiyah baik di jaman Kolonial Belanda, Jepang dan kemerdekaan yang juga banyak mendasarkan kepada hasil wawancara itu.
Pada Bab ke V, khusus diuraikan berkenaan dengan pembentukan dan perkembangan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat disamping beberapa amal usaha yang melekat dan menjadi tanggung jawabnya.

Mi'raj : Dikdik Dahlan L.

Di Malam penuh berkah itu, sebagaimana yang dituturkannya langsung oleh Rasulullah, sebagai pelaku sejarahnya, beliau diperjalankan (isra’) oleh Allah dari Masjid Haram menuju Masjid Al-Aqsha. Untuk menuju tempat tujuan, Masjid Al-Aqsha, beberapa tempat sempat disinggahinya, Yasthrib, Thursiena, Betlehem.
Tempat-tempat itu adalah tempat-tempat bersejarah dalam pemancangan risalah Allah baik di lihat ke belakang maupun ke depan untuk waktu selanjutnya. Yatshrib yang sekarang dikenal dengan Medinah adalah tempat hijrah nabi yang kemudian menjadi pusat kegiatan kaum Muslimin kelak di kemudian hari. Thursiena, adalah sebuah bukit suci tempat Nabi Musa menerima wahyu, berpuluh tahun sebelum Nabi Muhammad. Adapun Betlehem adalah tempat kelahiran Nabi Isa.
Perjalanan ini seperti mengisyaratkan untuk senantiasa menggali ilmu pengetahuan, memperluas cakrawala, menengok titian sejarah masa lampau untuk dijadikan cermin atau bahkan mungkin menjadi salah satu tahapan perjalanan menuju kegemilangan di masa yang akan datang. Perjalanan itu sendiri dituntun langsung oleh Malaikat Jibril sebagai tempat bertanya dari kegelapan sejarah, kegalauan hati dari berbagai informasi yang sangat mungkin banyak mempengaruhi langkah-langkah dan perjuangannya menegakan risalah di kemudian hari.
Setelah sampai di Masjid Al-Aqsha, episode kedua dari perjalanan itu adalah Mi’raj. Banyak hal yang ditemui oleh Nabi ketika melakukan Mi’raj ini. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah diterimanya perintah langsung dari Allah untuk menegakkan shalat lima waktu. Kewajiban ini kemudian juga harus disampaikan kepada ummatnya seiring penyampaian tentang perjalanan Isra Mi’raj-nya yang ternyata mendapat sambutan baik dari pecintanya sekaligus cercaan, makian, tuduhan, dan fitnah dari orang-orang yang senantiasa menghalangi upaya penegakan risalah itu.
Mi’raj, dinilai sebagai penghargaan yang paling tinggi diterima Rasulullah di sela-sela aktivitasnya menunaikan titah Allah, menyampaikan dan menegakan risalah. Mi’raj, juga merupakan pengalaman ruhaniah paling tinggi nilainya yang tidak pernah dirasakan oleh nabi dan rasul sebelumnya apalagi manusia – manusia sesudahnya, sehingga karenanya, semangat penegakan risalah kembali memuncak sekalipun di tengah kegalauan hati setelah di tinggal dua orang yang dicintainya : Abu Thalib dan istrinya Khadijah.
Di malam itu, setelah Mi’raj, yang jelas, Nabi kembali di tengah keluarganya, di tengah sahabatnya dan bergumul lagi dalam kehidupan duniawi. Ia tidak terlena dalam dekapan penghargaan yang Allah berikan. Ia tidak mementingkan dirinya sendiri untuk meraup kenikmatan mi’raj itu, tapi ia kembali ke bumi, kembali ke kehidupan dunia untuk memakmurkannya, mengajak orang-orang yang masih dalam kegelapan, dan kebodohan, untuk bersama-sama menikmati perjumpaan dengan Allah, lewat mi’raj, lewat shalat. Mi’raj tidak berarti lupa akan bumi. Shalat bukan berarti menendang duniawi.

Nabi Yusuf : Dikdik Dahlan L.

Ada 25 orang nama Nabi dan Rasul yang diabadikan kisahnya oleh Allah SWT. di dalam al – Qur’an. Sehingga karenanya, di waktu kanak – kanak, waktu masih giat belajar ngaji di mushola – mushola, Pak Ustadz hanya memperkenalkan 25 orang nama nabi yang wajib di hapal. Padahal para ulama justru meyakini kalau Nabi dan Rasul itu tidak hanya terbatas sebanyak 25 orang nama itu, sekalipun harus diakui pula banyak perbedaan pendapat mengenai jumlah pastinya.
Di antara sekian kisah para Nabi dan Rasul itu, barangkali kisah Nabi Yusuf as adalah salah satu kisah yang cukup unik dan menarik untuk disimak. Kalau kisah Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan lain sebagainya disampaikan oleh Allah melalui serpihan ayat dalam surat yang berbeda, kisah Nabi Yusuf as. justru didokumentasikan oleh Allah secara utuh dalam satu surat, yaitu surat Yusuf, surat ke 12 (dua belas) dalam susunan mushaf al – Qur’an. Kalau kisah para nabi yang lain oleh Allah disampaikan secara parsial sesuai tema dan pesan yang ingin disampaikan, kisah NabiYusuf diuraikan dalam surat itu secara menyeluruh, mulai dari kehidupan kanak – kanak yang dihiasi dengan intrik hasud saudaranya sendiri dengan membuangnya ke dalam sumur di tengah padang pasir, memasuki usia remaja/baligh yang mendapat cobaan berupa godaan syahwat dari majikan perempuannya sendiri, sampai memasuki usia kematangan ketika Allah dan ummatnya memberikan kepercayaan berupa jabatan paling penting untuk saat itu. Untuk setiap lekuk kisah Nabi Yusuf ini, Allah sampaikan dalam sejumlah 111 buah ayat dengan terlebih dahulu menyampaikan kata – kata pembuka yang sangat indah : “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al – Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”. (Q.S. 12 : 3).
Di penghujung surat ini, Allah pun menutup kisah ini dengan ungkapan yang cantik : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal…..” (Q.S. 12 : 111). Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Yusuf ini, paling tidak tentang penyakit hati yang muncul dari saudara-saudaranya berupa hasud dan kemudian melahirkan tindakan kriminalitas, bahwa dalam menjalani kehidupan perlu ekstra hati- hati terhadap berbagai godaan syahwat, dan bahwa amanat, jabatan, kedudukan adalah patut ditunaikan dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Setiap manusia nampaknya tidak bisa lepas dari ketiga godaan ini ; hasud yang berbuah tindak kriminalitas, kemudian seksualitas dan jabatan/kehormatan. Nabi Yusuf, adalah tauladan orang yang mampu berkelit serta menghindari ketiga godaan tersebut.

FBI, eh bukan FPI : Dikdik Dahlan L.

Sekolah – sekolah di liburkan. Jalanan sepi, seperti tak ada kehidupan. Warung dan toko, sekalipun tetap buka tapi nyaris tak ada pengunjung maupun pelayanan. Seluruh mata, terutama para pria, anak atau dewasa, tak mengenal umur, tertuju ke layar televisi yang saat itu masih hitam putih, dan termasuk barang mewah. Tayangan menarik itu, tiada lain tarian dan pukulan sang legendaris Muhammad Ali. Sekalipun tontonan itu bernama Tinju yang nota bene adu jotos antara dua manusia berotot kekar dan terlatih, tapi Muhammad Ali mampu mengubah tinju sebagai tontonan yang indah dan nikmat.
Memasuki era Mike Tyson, si Leher Beton. Ring tinju seakan akan dibuatnya sebagai tempat “pemuasan”. Setiap lawan adalah lawan, tak perlu dikasih hati, di beri kesempatan, apalagi peluang. Kalau perlu, dilumat habis berikut celana kolornya. Dua insan di atas ring seakan sebagai sepasang mangsa dan pemangsa.
Konon, Abah Uca dulu amat periang, dan yang mengubahnya seperti beberapa waktu ke belakang adalah pertunjukan Mike Tyson. Abah sering terlihat melamun, tidak terlalu banyak bicara dan bahkan sekali-kali secara tiba- tiba suka menunjukan kegetiran, sampai tangan dan pundaknya terlihat bergeletar.
Menurut cerita yang dipercaya, kondisi yang dialami Abah Uca tersebut berawal dari kematian salah seorang teman dekatnya. Pada waktu itu, Abah Uca dan beberapa tetangganya termasuk teman dekatnya sedang ramai – ramai menonon televisi, menanti si Leher beton beraksi. Padahal mereka menongkrongi televisi itu sudah sejak satu jam sebelumnya, menonton partai – partai tambahan. Ketika Mike Tyson dipanggil, Abah Uca bergerak mencari posisi yang paling baik. Ketika bel terdengar tanda pertandingan dimulai, matanya tertuju ke layar televisi, dan beberapa saat setelah itu, teman dekat Abah Uca terkulai lemas dipangkuan Abah Uca seiring tak berdayanya lawan Mike Tyson, sebelum bel tanda berakhirnya ronde pertama dibunyikan.
Sebenarnya, sudah beberapa bulan yang lalu Abah Uca terlihat agak mending. Tidak terlalu banyak menyendiri apalagi, sering ngobrol dan tertawa lepas dengan tetangganya, bahkan tangan dan pundaknya tak pernah lagi terlihat bergeletar. Tapi, Jum’at pagi, tanggal 4 Oktober 2002 bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj, sesaat setelah shalat dan mengikuti kuliah shubuh, justru Abah Uca nyaris mengalami nasib yang sama dengan almarhum teman dekatnya beberapa tahun yang lalu. Abah Uca sempat menggisik-gisik bola matanya, mendekatkan matanya ke layar televisi, mengamati tulisan atau hurup yang tertera di punggung beberapa pria yang tengah mengamuk di sebuah diskotek.
“FBI ? Eh, bukan, FPI….” Tidak puas dengan hasil penglihatan matanya. Abah Uca yang agak terganggu pendengarannya itu memperbesar volume televisinya, sampai habis.
“Astagfirullah…. ! ! !” Ia sempat akan terjatuh, bahkan dahinya sempat membentur ujung tangan kursi bututnya. (Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Gema Mujahidin - Bandung)

Asuransi Jiwa : Dikdik Dahlan L

Benarkah kehidupan akhirat itu ada ? Benarkah surga dan neraka itu ada ? Sebelum menjawab pertanyaan –pertanyaan itu, nampaknya perlu juga dipertanyakan apakah nurani dan pikiran itu juga ada ? berwujud, sehingga mudah untuk digengam ? Padahal sering kita berbangga diri dengan keduanya.
Tidak hanya itu, untuk sesuatu yang belum pasti saja dalam kehidupan dunia ini, kita berusaha menggenggamnya. Semisal asuransi. Bukankah kita tidak pernah tahu kalau mobil kita bakal tertabrak, rumah kita akan terbakar ? Semua itu tentu bermula dari kekhawatiran.
Sebagian besar di antara kita mengikuti program asuransi sebagai upaya mensiasati kemungkinan munculnya musibah atau kecelakaan dan kerusakan berkenan dengan apa yang dimilikinya baik berupa kesehatan maupun dalam bentuk harta kekayaan dan lain sebagainya. Program asuransi diasumsikan dapat mengurangi berbagai resiko yang mungkin menimpa seseorang. Mereka memilih jasa pelayanan asuransi yang lebih mendekati terjaminnya seluruh kekhawatiran itu. Padahal, sekali lagi, setiap orang tidak pernah mengetahui akan nasibnya di kemudian hari.
Hal yang pasti bahwa kemungkaran terhadap Allah akan berujung menjadi penghuni neraka dan sebaliknya bahwa keimanan dan amal saleh akan membawa kepada kenikmatan surga justru sering dilupakan. Allah telah memastikan kedua hal itu, tapi manusia sering lupa untuk mengasuransikan dirinya dihadapan Allah agar tidak terjurumus ke dalam ancaman Allah berupa siksa api neraka.
Mengasuransikan kesehatan dan harta kekayaan bahkan jiwa sekalipun dalam kehidupan dunia adalah sesuatu yang wajar. Tetapi jauh akan lebih berharga apabila seluruh kehidupan ini diasuransikan pula dari ancaman siksa api neraka dengan memupuk dan menabung amal kebaikan.

Menyikapi Ujian : Dikdik Dahlan L.

Allah berfirman : “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mngatakan “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi” (Al ankabut 2).
Jenis ujian tentu saja sangat berragam ada yang berat, ada yang ringan. Ada yang langsung dirasakan oleh dirinya ada pula yang melalui anak, keluarga atau shahabatnya. Ada yang berupa kesengsaraan, tidak sedikit pula ujian itu berupa kekayaan, kehormatan dan kedudukan yang mulia. Semua itu tergantung kehendak Allah. Yang pasti, apapun bentuknya, orang yang beriman akan menerima ujian itu dengan kelapangan dan kesiapan mental yang prima.
Seperti seorang pelajar, biasanya menjelang masa – masa ujian mereka akan meningkatkan frekwensi belajarnya guna menghadapi soal - soal ujian. Ia bahkan berupaya untuk meraih nilai setinggi – tingginya dengan harapan dari nilai ujiannya itu berakibat ia naik kelas dan mendapat ranking tertinggi. Ia sangat yakin : semakin banyak belajar, semakin siap mental si pelajar itu untuk menerima soal ujian yang disodorkan.
Orang yang beriman setiap saat akan selalu belajar, baik dari ayat – ayat Allah yang berupa wahyu maupun berupa fenomena alam dan pengalaman hidupnya sebagai bekal menghadapi berbagai ujian dari Allah.
Berbagai ujian dan cobaan dari Allah akan disikapinya dengan arif, sebab dia sangat berharap dengan ujian yang dijalaninya ini justru akan semakin mempertbal keimanan dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ia sangat yakin, tidak mungkin Allah memberikan soal ujian yang di luar kemampuan dirinya “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (Dari kebajikannya) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al Baqarah 286)

Manusia bisa Jadi Sampah : Dikdik Dahlan L.

Memiliki sebuah jam dinding yang cantik dan unik, bisa jadi dambaan sebagian orang. Tapi apalah artinya sebuah jam dinding yang cantik dan unik itu bila ternyata jarum jamnya tidak pernah bergerak. Sebuah jam dinding yang baik adalah jam yang masih bisa digunakan untuk menunjukkan waktu, karena orang membuat atau membeli jam dimaksudkan sebagai penunjuk waktu. Ketika jam sudah tidak berfungsi, maka hilanglah kegunaannya menyusul hilang pula harganya.
Ketika Allah menciptakan manusia dengan desain “ahsanu taqwim” paling sempurna wujud dan bentuknya dibanding makhluk lainnya, Allah memiliki maksud utama dari penciptaanya itu. Tiada lain adalah untuk beribadah : “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku” (Adz Dzariyat 56).
Al hasil Allah SWT. menciptakan manusia, menundukan seluruh alam untuk manusia, tiada lain agar manusia memang dapat berguna dan berfungsi seperti maksud penciptaanya. Artinya, tiada satu desah napas pun pada diri seorang manusia kecuali setiap desahan nafas itu memiliki nilai ibadah. Manusia yang baik adalah manusia yang masih menjalani fungsinya dalam bentuk amalan ibadah. Sebaliknya, manusia yang sudah tidak melakukan fungsinya, tidak ada bedanya dengan barang bekas, sampah dan rongsokan.
Amal yang bernilai ibadah, sudah barang tentu tidak terbatas pada amalan ritual saja seperti shalat, puasa, haji dan umrah. Seluruh aktivitas berpeluang untuk digiring menjadi amalan yang bernilai ibadah, sebab terlalu berorientasi kepada amalan ibadah ritual tanpa disempurnakan dengan amalan social, bukan tidak mungkin malah menjadi bumerang. Rasulullah pernah membuat prediksi terhadap seorang wanita bahwa kelak, wanita itu akan digolongkan sebagai ahli neraka akibat mengurung seekor kucing tanpa diberi makan, padahal wanita tadi dikenal oleh tetangga dan kerabatnya sebagai orang yang senang beribadah (ritual).

Jujur : Dikdik Dahlan L.

Sekiranya di tengah – tengah shalat kita kentut, niscaya dengan serta merta kita pasti akan membatalkan shalat itu, sekalipun kentut itu tidak bersuara atau berbau. Kita akan berwudlu dan memulai lagi shalat dari awal. Hal itu dilakukan karena kita sangat yakin bahwa Allah tidak mungkin dapat kita bohongi.
Itulah salah satu pelajaran terpenting dari shalat yang kita tegakkan sedikitnya 17 rakaat dan dalam 5 waktu satu hari satu malam. Semenjak bangun dari tidur, kita dibekali kejujuran dengan dua rakaat shalat shubuh agar ketika kita memulai kehidupan di hari itu memang dibekali oleh kejujuran. Kita pamit bekerja kepada anak istri memang sesuai dengan apa yang kita ucapkan.
Waktu Shalat Dhuhur tiba, kembali kejujuran itu diingatkan kembali oleh Allah agar selama kita bekerja tidak menindas bawahan, mencatut hak atau kekayaan yang menjadi milik orang lain, dan mangkir dari tempat pekerjaan, Pada saaat Shalat Ashar, Maghrib dan Isya pun demikian, agar kita senantiasa berlaku jujur dihadapan anak, istri dan tetangga, lingkungan terdekat tempat kita berlindung.
Gelar yang melkat pada diri Rasulullah pun kita kenal dengan sebutan al Amin, orang yang dipercaya. Tentu dipercaya karena kata – katanya tidak pernah dusta, janjinya tidak pernah diingkari dan amanatnya selalu tertunaikan. Bahkan sebutan al Amin itu justru lahir dari mulut orang – orang Quraisy, jauh sebelum masa kerasulannya. Padahal kita kenal orang Quraisy saat itu hidup di tengah peradaban jahiliyah, peradaban carut marut, peradaban yang sangat bobrok. Namun demikian, segelap apapun peradaban itu, mereka dengan senang hati menyebutnya al Amin.
Kejujuran yang ditegakkan tidak bisa luntur oleh peradaban segelap apapun. Kejujuran seperti sebilah mata uang yang akan tetap berharga kapanpun dan dimanapun

Menyempurnakan Amal dengan Ikhlas : Dikdik Dahlan L.

Konon ada seorang ahli ibadah yang bertahun – tahun ia selalu shalat berjama’ah, berdiri tepat di belakang imam. Selesai shalat, ia selalu membaca wirid dan berdo’a dengan khusu’ memakan waktu yang cukup lama.
Suatu ketika, ia terlambat memasuki mesjid sekalipun ia masih bisa shalat berjama’ah. Sambil menahan nafasnya yang terengah – engah, ia hanya mampu berdiri di shaf paling belakang, tapi ia tetap berusaha menyempurnakan shalatnya.
Seusai shalat, muncul rasa segan dan malu dalam dirinya untuk menyapa sesama jamaah yang lain. Saat itu juga ia menangis sejadi-jadinya. Bukan menangis karena keterlambatannya mengikuti shalat berjamaah. Ia menangis karena muncul kesadaran bahwa ternyata perjuangannya untuk selalu shalat berjamaah di shaf paling depan tepat di belakang imam tiada lain karena malu oleh orang lain. Ia terlanjur dikenal oleh tetangganya sebagai orang yang taat shalat berjama’ah. Ia baru menyadari bahwa di balik semangatnya itu ternyata terselip sifat riya.
Menurut Rasulullah, riya adalah salah satu sifat manusia yang bisa menyeret kepada kemusyrikan yang paling terselubung. Rasululah bersabda : “Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian semua adalah Syirik paling kecil”. Para shahabat bertanya : “Ya, Rasulullah, apa yang dimaksud dengan syirik paling kecil ?”. Rasulullah menjawab : “Riya. Di hari qiyamat nanti, pada saat Allah memberikan balasan atas amal perbuatan setiap manusia, Allah berfirman : “Pergilah kepada orang-orang yang selalu melihat amal perbuatan selama di dunia. Lihatlah, apakah pada mereka itu ada pahala yang akan mereka berikan kepadamu ?””.

Orang Besar : Dikdik Dahlan L.

Kami duduk berhadapan beralaskan selembar tikar. Matanya yang indah, sesekali menatap wajahku. Di balik keindahan matanya, aku juga merasakan keteduhan. Barangkali karena keteduhannya itulah aku selalu merasakan kasih sayang sejati kalau ia melemparkan pandangan, hingga aku makin larut dalam naungannya.
Diantara kami, akulah yang paling banyak diam. Nyaris hanya mampu menundukkan kepala. Namun begitu, aku masih bisa mengintipnya ketika ia sesekali membetulkan kerudungnya, membetulkan bahu bajunya, membetulkan duduknya atau mempermainkan jemari dan tikar alas duduk kami berdua. Dari mulut tipisnya, jelas sekali kudengar seluruh ucapannya. Bahkan hampir seluruh kata-katanya selalu kusimak dan kucerna dengan baik. Dan kata-katanya itulah yang membuatku menangis.
Kata-katanya halus tidak ada yang menyulitkan. Ia lontarkan pertanyaan-pertanyaan sederhana tanpa ada kesan menginterogasi atau menggurui. Setiap ucapannya seakan menggiring untuk menengok kembali seluruh perjalanan hidupku. Aku sangat terkesan dengan gaya bicaranya, dengan keteduhan kata-katanya, karena itu ingin sekali aku memanggil ibu kepadanya, atau paling tidak : mbak. Padahal belum lama kami saling mengenal. Satu bulan pun belum.
Sebaliknya, ia mengaku sudah sejak lama mengenalku. Kupinta bukti kalau memang sudah lama mengenalku. Ia tidak bisa menyodorkannya, tapi dari caranya ia bicara, caranya ia menyampaikan sesuatu, caranya ia menyadarkanku, aku semakin yakin kalau ia memang sudah lama mengenalku. Ia tahu tentang segala hal dalam hidupku, tapi sama sekali ia tidak bermaksud menelanjangiku. Aku merasa hanya dialah saat itu orang yang paling dekat denganku. Dia yang paling tahu siapa diriku sebenarnya. Ia bahkan seperti yang lebih tahu tentang diriku ketimbang diriku sendiri. Aku malah bertanya : kenapa mesti dia ? bukan ayahku, ibuku, kakak-kakakku atau teman-teman dekatku ?
Barangkali karena caranya yang lain, ia temukan dulu bagaimana semestinya ia bicara denganku, kemudian ia menggiringku pada suasana yang lebih akrab, tapi keakraban itu sama sekali tak mengurangi kewibawaanya. Sebagai seorang pria, wajar kalau aku bersikap sebaliknya, tapi ternyata tidak berhasil. Perasaanku, semestinya aku bersujud di bawah senyumannya. Dalam kepenatan seperti itulah seakan seluruh kebebasanku diikatnya. Kejantananku sebagai seorang pria ia lumpuhkan dalam waktu yang sangat singkat.
Tubuh seorang laki-laki yang duduk di atas tikar saat itu, tidak ada arti sama sekali di matanya. Kurasakan semua itu. Kuakui dan mesti kuakui : aku tidak ubahnya seorang bocah bloon, bahkan super bloon. Aku pun merasakan betapa kasih sayangnya ia tampakkan untukku. Ia bukan ibuku, ia bukan guruku, apalagi dewa. Ia hanya seorang teman yang baru kukenal beberapa minggu lalu.
Seakan akan ia berdiri, bernafas dan semua hidupnya hanya untuk memata-mataiku, kemudian dengan kata-kata bijak, saat itu, ia perlihatkan semua koreng koreng di tubuhku yang tidak pernah kusadari sebelumnya. Ia sebenarnya hanya seorang wanita biasa, tak banyak kelebihan bahkan aku pun menilai masih banyak sikap dan pribadinya yang perlu diluruskan. Tapi lagi – lagi aku harus mengulang pertanyaan : mengapa ia tahu tentang aku segalanya ? Lebih dari itu, harus kuakui : kalau pada saat itu ia bersikap sangat dewasa dan bijaksana, Bahkan terlalu bijaksana. Bijaksana sekali.
Untuk kesekian kalinya, diantara kami kembali diam seribu bahasa. Tidak ada yang bicara. Aku sendiri hanyut dalam kata-katanya yang menggiring benakku untuk mengenang semua liku dan sikap butaku.
Sejak dari dulu, bahkan dulu sekali mungkin juga telah menjadi salah satu sifatku : aku selalu ingin menang sendiri. Kompromi hanya bagian kecil dalam hidupku, kecil sekali bahkan nyaris tidak ada. Jauh, jauh sekali aku harus menerima pendapat orang lain dengan begitu saja. Paling tidak aku harus mengomentarinya terlebih dahulu. Tidak jarang aku berapologi untuk sebuah gengsi, berkelit lidah, menepiskan semua argumen orang sekalipun aku menyadari akan kebenarannya.
Suatu saat, pernah mataku memerah karena argumenku terdesak beberapa buah pertanyaan. Tidak hanya apalogi, teori – tori orang besar berbahasa Inggris pasih kuucapkan. Aku sempat memukul meja segala. Alasanya sangat mudah ditebak : aku tidak mau kalah.
Keakuanku : akulah orang besar. Duniaku tak lagi mengenal kehidupan nyata. Makananku hanya teori-teori yang tak pernah mengenyangkan. Alamku hanya kata-kata yang tersusun rapi dalam helai buku tebal sampai super tebal yang membebalkan. Sementara tangis si miskin yang kehilangan kesempatannya mendapatkan sesuap nasi tadi pagi, brutalnya budak zaman yang senantiasa dijadikan kambing hitam, tajamnya sikut-sikut runcing pejabat berperut gendut dan sejuta kenyataan hidup tak pernah masuk dalam agenda telaahanku.
“Ya Allah jadikan ia salah seorang sahabatku, dekatkanlah ia denganku…” pintaku, di sela-sela derai air mataku.
“Agaknya lebih baik kita sadari, bahwa semua orang punya kepala ? Kita tak hidup sendiri, apalagi sampai melupakan orang lain, yang akhirnya kita merasa besar dan berbesar kepala” ucapnya.
Sesaat, kembali aku hanyut dalam kata-kata itu hingga tak sadar aku menatap tajam wajahnya yang bulat keibuaan. Ia menundukan kepala, jemari lentiknya saling dipermainkannya. Perlahan kepala itu diangkatnya kembali. Sampai kedua mata kami saling bertatapan. Tapi aku tak kuasa melawan tatapan matanya itu. Ada rasa malu. Ada rasa hormat. Lalu kepalaku tertunduk lagi, padahal degup jantungku seakan menggigilkan tubuhku.
Masih saja ia menatapku. Betapa berat rasanya untuk sekedar menengadahkan kepala. Apalagi untuk memberanikan diri menatap kembar wajahnya. Perasaanku saat itu seperti diburu sejuta dosa. Hingga hiduplah kembali dalam benakku beribu ulah-ulah nista yang pernah kulakukan. Ingin rasanya saat itu mengguling-gulingkan tubuhku karena rasa sesal yang sangat dalam. Kalau saja tak tertahan. Barangkali saat itu juga pangkuanku sudah basah kuyup oleh air mataku sendiri. Aku merasa kecil dihadapannya. Kecil sekali.
“Ya Allah, dekatkanlah ia denganku. Jadikan ia salah seorang sahabatku” selalu kupintakan doa itu kepada-Nya.
“Akhirnya kita merasa besar, dan selalu berbesar kepala “ ucapannya itu seperti sebilah anak panah yang berhasil merobek dan menembus relung paling dalam sanubariku.
…
“Sungguh, aku tak percaya kalau kau melakukan ini”. Aku menatap sorot matanya yang berbinar. Dari caranya ia memandang, sepertinya ia tak merasa berdosa dengan apa yang diperbuatnya. Aku kehilangan teduh matanya yang kemarin sempat menyejukkan hati. Aku kehilangan indah matanya yang kemarin sempat berkacak penuh wibawa.
“Tapi, kita tidak sedang tidur saat ini” jawabnya, tanpa beban.
“Tapi, tapi ini tak semestinya dilakukan oleh seorang wanita sesuci dirimu !”
“Kata siapa aku suci ?”